Alat dan SDM Pemantau Gempa Sudah Bagus

Kepala PVMBG, Kasbani di Pos Pengamatan Gunungapi Agung di Bali.
Kepala PVMBG, Kasbani di Pos Pengamatan Gunungapi Agung di Bali.
Sumber :

Apa saja yang menjadi kendala selama ini?
Kalau dari sisi teknis, sebenarnya, masing-masing gunung kan punya karakteristik yang berbeda-beda. Kemudian kita ini kan terkait dengan masyarakat juga, di mana budayanya tidak sama, tingkat mereka merespons bahaya bencana juga beda-beda. Ada yang cepat merespons, ada juga yang lama merespons. Belum lagi bicara kultur komunitas di daerah pegunungan yang berbeda-beda. Untuk daerah yang sudah terbiasa dia cenderung cepat dalam merespons informasi dari kita, baik itu pemerintah daerahnya, masyarakatnya. Warga yang sudah terbiasa dengan erupsi misalnya, dia pasti lebih peka, lebih cepat merespons jika erupsi itu terjadi. Kalau yang belum pernah mengalami, responsnya pasti beda, tidak secepat mereka yang sudah terbiasa menghadapi erupsi.

Artinya kesadaran masyarakat sangat penting untuk cepat tanggap apabila ada bencana?
Iya. Untuk gunung berapi misalnya, kita tahu tidak sedikit masyarakat kita yang tinggal di wilayah pegunungan karena daerah pegunungan memang daerah subur. Misalnya di Gunung Agung, orang yang tinggal dan beraktivitas di sana jaraknya berada di radius empat kilometer dari puncak Gunung Agung. Bisa dibayangkan itu bahayanya. Padahal ancamannya bisa mencapai radius 12 km. Begitu juga Gunung Tangkuban Perahu. Tapi memang Tangkuban Perahu itu dari sejarah tidak terlalu inilah, cuma sekarang daerah itu menjadi daerah wisata, maka itu harus diantisipasi. Kalau permukiman tidak terlalu dekat lah dari daerah rawan di sana.

Berapa banyak warga tinggal di kawasasn rawan bencana? 
Saat ini ada sekitar 4 juta lebih orang yang tinggal di kawasan rawan bencana di seluruh gunung berapi yang ada di Indonesia. Ini kan juga harus menjadi PR kita bersama. Kami tentu sudah memberikan informasi bahwa daerah ini berbahaya, dan berupaya memberikan imbauan kalau terjadi erupsi tolong segera keluar dari wilayah ini, dan seterusnya.

Bagaimana komunikasi dengan pemerintah daerah?
Untuk di wilayah gunung berapi sebenarnya komunikasi dan koordinasi kita cukup baik ya. Memang ada beberapa daerah yang kurang cepat merespons lah ya, mungkin karena daerah itu tidak terbiasa dengan bencana erupsi ya, karena juga kawasan pegunungannya yang sulit dijangkau oleh pemerintah daerah kan juga ada, kan ada juga wilayah gunung yang termasuk remote area kan, sehingga komunikasi juga sedikit terhambat. Tapi pada dasarnya semua berjalan baik, koordinasi kita dengan pemerintah daerah ya.

Kalau dengan BNPB atau instansi pemerintah pusat lainnya?
Kalau dengan BNPB kita lancar komunikasi dan koordinasi, dengan BPBD juga sangat bagus ya. Karena kita selalu melaporkan juga misalnya ada peningkatan status, ada rekomendasi dari hasil penelitian atau pengamatan kita, itu secara formal selalu kami Kementerian Pariwisata, dan sebagainya.

Closing statement?
Laporkan kepada mereka (BNPB). Baru tembusannya ke instansi terkait, misalkan Kementerian Perhubungan, Kementerian KLHK. Jadi kalau yang terkait dengan kami itu kan pengamatan gunung berapi, pergerakan tanah, gempa bumi, dan tsunami. Kami akan selalu memberikan rekomendasi dan informasi terkait dengan kebencanaan geologi itu tadi.

Kami harapkan juga, masyarakat dan para stakeholder yang lain pun mengacu pada informasi yang kami rekomendasikan itu tadi. Dan kapan persisnya terjadinya bencana itu tidak bisa dipastikan kapan bencana itu datang. Akan tetapi kita harus terus melakukan antisipasi dengan membuat Kawasan Rawan Bencana itu tadi. Kami untuk gunung api juga sudah memantau kondisi gunung-gunung setiap saat, dan kami juga memberikan laporan atau rekomendasi dari hasil pantauan kami kepada pemerintah atau stakeholder terkait.

Kami juga mengharapkan para stakeholder lainnya juga dapat membantu menyosialisasikan terkait dengan informasi yang rawan bahaya kepada masyarakat dengan cepat dan tepat. Karena kita tahu yang namanya bahaya ini berpacu dengan waktu. Kalau ada informasi dari kami, kami harapkan kerja samanya kepada para pemangku kepentingan lainnya untuk segera menindaklanjuti. Begitu juga dengan masyarakat. Kami mengharapkan juga kepada masyarakat agar mengikuti informasi dari sumber-sumber resmi saja, informasi yang benar, sehingga masyarakat juga bisa tetap tenang, melakukan evakuasi mandiri. 

Jadi sekali lagi, kita hanya bisa memprediksi terjadinya bencana, tapi kita tidak bisa memastikan kapan tepatnya bencana itu datang. (art)