Iko Uwais: Daripada Aktor, Saya Lebih Nyaman Disebut Fighter!

Iko Uwais
Iko Uwais
Sumber :
  • Netflix

Yang paling dirinduin pas syuting di Indonesia apa aja sih, Bang? Apa bedanya sama di luar negeri?

Kekeluargaanny, Mbak. Kan kita satu sama lain udah kenal dan akrab. Waktu film Berandal itu 8 bulan, Mbak. Ketemu keluarga aja paling jarang, paling sering sama kru gitu kan. Headshot saya 2 bulan di Batam. Dua bulan di Batam, apa-apa semua serba bareng, The Night Comes for Us 7 bulan. Setiap hari sama kru segala macem. Jadi sifat kebersamaannya itu salah satu plus minusnya sama di negara sendiri, di sana (luar negeri) kita enggak temuin. 

Jadi pas lagi libur, misalkan dua hari, sehari libur itu enak banget kan, bisa santai di rumah, bisa ke mana-mana, masih bisa ketemu sama keluarga. Kalau di sana kan walaupun sehari, dua hari, tiga hari libur ngapain kan, enggak ke mana-mana, mending kerja sekalian kan. Kita asing sama negara orang dan cuacanya beda, dari segi makanan agak enggak begitu mudah buat kita gitu kan. Yaa plus minus sih, Mbak.

Tawaran main film atau serial kan banyak, hal apa yang paling mendasar yang dijadikan Bang Iko sebagai standar terima tawaran itu?

Sejauh ini sih saya emang lagi action ya Mbak, jadi sangat jarang ya untuk di Indonesia ataupun di luar masih bisa dihitung tangan ya. Action banyak, cuma  masih bisa dihitung dengan tangan apalagi di Indonesia gitu. Ehm... sekarang lumayan tercium sih, budaya Indonesia ada silatnya, akhirnya di sini saya, ya karena saya atlet silat, walaupun apapun gerakan yang diberikan ke saya, pasti otomatis kuda-kudanya pencak silat. 

Jadi udah menjadi darah daging, mau karate, taekwondo, capoeira itu mah gerakannya, otomatis ending-nya silat. Jadi ada yang berbau sedikit budaya saya, Indonesia. Saya sangat tertarik untuk di luar, untuk di sini apalagi. Jadi temen-temen yang ada di sini, misalkan ada film, drama, sama sekali enggak ngeliat ada bonyok di muka saya, itu pasti sedikit aneh sih. Jadi sejauh ini saya nikmatin dulu buat ke action fighting.

Iko Uwais masih antusias menjawab semua pertanyaan-pertanyaan kami. Iko tampak berpikir sejenak, ketika salah satu dari kami menanyakan soal pernyataannya dalam sebuah wawancara bahwa aktor kelahiran Jakarta ini masih enggan disebut sebagai seorang aktor. 

"Eeengg... belum jawab aja, saya udah merinding, Mbak," katanya membuat kami tertawa. Iko Uwais tampak lebih serius dari sebelumnya.

Iko Uwais

"Soalnya yang dibilang aktor tuh apa ya. Mungkin orang banyak yang baru main sekali film udah dibilang aktor. Aktor itu nama yang tanggung jawabnya besar banget buat saya," katanya kemudian.

"Aktor itu dia harus bisa memerankan semua karakter apa yang ditawarkan oleh sang sutradara, seperti kayak Mbak nonton wayang kulit ataupun wayang golek. Wayang golek itu dalangnya, itulah aktor. Dia bisa menerapkan masing-masing wayang, berbeda-beda dari segi suara, attitude-nya, gesture badannya wayang, itu pun kita bisa ngelihat oh itu Cepot, oh itu si Fulan, itu si Fulan segala macem.