Wisata Air Terjun di Atas Awan, Pengembangan Potensi Alam Desa Citorek
VIVA – Dibalik kondisi geografis Kabupaten Lebak yang sebagian wilayahnya berupa perbukitan, tersimpan beragam potensi wisata alam yang indah dan menyejukkan mata.
Potensi wisata alam ini tepatnya berada adalah Desa Citorek Kidul, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Segudang objek wisata alam yang masih sangat asri ini memiliki suasana yang sejuk dan nyaman. Ditambah dengan pemandangan yang sangat luar biasa menambah rasa damai dan tenang ketika mengunjungi wilayah tersebut.
Wilayah wisata yang ada di Desa Citorek Kidul ini masih berada didalam kawasan Hutan Lindung, Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS).
Seperti yang diterangkan Sukmadi, Ketua Komunitas Pemuda Pecinta Alam Citorek Kidul (Kompack), di Desanya tersebut terdapat lebih dari lima objek wisata alam Air Terjun, atau warga sekitar lebih sering memanggilnya Curug, dimana lokasi dan suasana yang berbeda dan memiliki ketinggian mencapai puluhan meter.
”Saat ini sudah banyak wisatawan yang berkunjung kesini, mulai dari berbagai macam wisatawan seperti halnya komunitas motor, pecinta alam, rombongan keluarga, juga yang lainnya dari berbagai kota,” ungkap Sukmadi kepada tim Viva melalui aplikasi pesan singkat.
Namun demikian, potensi alam yang sekarang dimiliki Desa Citorek tidak terjadi begitu saja. Meskipun menjadi kawasan Hutan Lindung, masyarakat di desa tersebut memperjuangkan dan mengupayakan agar objek wisata yang dimiliki Desa Citorek juga bisa dinikmati banyak orang.
“Sebenarnya tantangan utama yang muncul adalah benturan antara pelestarian budaya, alam, dan kekhawatiran wisata memunculkan efek- efek negatif,” ujar Narta Kepala Desa Citorek kepada tim Viva melalui aplikasi pesan singkat. Masyarakat di Desa Citorek, lanjut Narta banyak yang belum memahami bagaimana mengelola kepariwisataan dan cara mengembangkan potensi alam.
Tidak hanya itu, Sukmadi juga mengatakan bahwa masalah akses jalan, yang berkenaan dengan potensi alam ini masih kurang dan bahkan awalnya tidak ada penunjang akses jalan yang bagus untuk dilalui untuk menuju lokasi.
“Akhirnya kita membangun simbiosis mutualisme antara pariwisata dan budaya. Jadi, selain mengembangkan sektor pariwisata kita juga turut serta melestarikan lingkungan budaya kita,” katanya.