Jika Peru Punya Ceviche, Batak Punya Naniura
- http://jejariku.com
Bumbu siram yang terdiri dari gabungan 10 macam bumbu termasuk andaliman, kecombrang mempunyai citarasa gurih yang kuat dan harum yang khas membuat selera makan kita tergoda untuk segera mencicipi. Texture kenyal dari daging ikan yang sudah meresap asam jungga menghadirkan sensasi tersendiri.
Beda dengan arsik makanan khas Batak lainnya, Dekke di Naniura ini memiliki tekstur kenyal namun mudah dikunyah dan dimakan bersama bumbu yang melumuri seluruh badan ikan mas itu. Menariknya, ikan yang digunakan juga harus ikan air tawar, pas dengan Danau Toba yang airnya tawar.
Melihat dari komposisi bumbu Naniura, makanan ini sangat bermanfaat bagi kesehatan. Terbayang oleh saya mengapa orang-orang tua kita lebih panjang umur, ini karena mereka mempunyai kebiasaan makan makanan yang baik. Menggunakan bahan-bahan yang segar.
Kebiasaan ini yang harus diturunkan kekeluarga. Memperkenalkan anak anak kita cara makan makanan yang baik yang biasanya ada di makanan tradisional. Lagi lagi kearifan local tidak pernah salah.Cara makan dan jenis makanan di suatu daerah ditentukan oleh kondisi alam sekitar.Itulah salah satu prinsip gastronomi yang terkenal dengan sebutan otentiksitas.
“Artinya kita tidak akan pernah bertemu dengan rasa asli yang otentik jika tidak langsung berkunjung ke daerah asalnya.Naniura tempatnya, tentu saja Sumatera Utara,'' katanya.
Menpar Arief Yahya menyebut jenis makanan naniura ini adalah khas Batak, dan hanya bisa ditemukan di budaya makan Tapanuli.Tidak semua tempat di tanah air punya jenis makanan khas seperti Danau Toba ini.“Karena itu, sayang kalau tidak mencicipi makanan khas itu. Kalau di Eropa ada Samlon, yang dimakan ala sushi, di Batak ada Naniura, yang juga fresh, tidak dimatangkan dengan api. Penasaran kan? Inilah produk budaya kuliner local yang sangat khas di Batak,” ujar Menteri Pariwisata RI Arief Yahya,
Kuliner, kata Arief Yahya, adalah salah satu cabang dari wisata berbasis budaya.Kuliner itu tidak bisa dipisahkan dari akar budayanya. Mengapa orang Batak menciptakan jenis makanan Naniura seperti itu, juga melalui perjalanan panjang yang cocok dengan karakter budaya setempat.Ada istilah, asam di gunung, garam di laut, berjumpa dalam belanga.