Berpikir Global untuk Dapatkan Mutu Pendidikan Internasional

Direktorat Penjaminan Mutu, Ditjen Pembelajaran dan Kemahasiswaan
Sumber :

VIVA – Dalam rangkaian peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) ke-23 tahun 2018 dengan tema ‘Inovasi untuk Kemandirian Pangan dan Energi’ yang dipusatkan di Provinsi Riau. Kemenristekdikti melalui Direktorat Penjaminan Mutu, Ditjen Pembelajaran dan Kemahasiswaan, melakukan berbagai upaya sistematis, terencana, dan berkelanjutan untuk meningkatkan budaya mutu Pendidikan Tinggi di Indonesia.

img_title Ali Mochtar Ngabalin Kasih Sinyal Ada Kepala Badan Kena Reshuffle

Kemenristekdikti terus melakukan facilitating, enabling, dan empowering penguatan Sistem Penjaminan Mutu Internal sebagai fondasi pengakuan SPME (nilai akreditasi prodi/institusi). Program studi/institusi yang telah terakreditasi B terus didorong meningkatkan SPMI untuk mendapatkan akreditasi A.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

73 institusi/pergurun tinggi yang saat ini telah terakreditasi A didorong untuk terus meningkatkan standar mutu tridharma perguruan tinggi untuk mendapatkan pengakuan internasional (akreditasi, sertifikasi, peringkat, dan assessment), begitu juga bagi program studi yang telah terakreditasi A.

img_title Menristek Sebut Vaksin COVID-19 Bisa Jadi Produk Inovasi dari RI

Pada tahun 2018 sudah difasilitasi 10 Prodi menuju Akreditasi Internasional, sebagai bagian dari upaya peningkatan daya saing bangsa pada tatanan global. Untuk tahun 2019, Kemenristekdikti akan memberikan dana stimulan bagi program studi yang sudah siap untuk mengajukan akreditasi internasional. Hal itu terpapar pada kegiatan International Conference Outcome-Based Internal Quality Assurance System, di Hotel Labersa, Rabu 9 Agustus 2018.

Paradigma penting dalam akreditasi internasional adalah menjadikan capaian pembelajaran (outcomes), asesmen dan evaluasi pencapaiannya sebagai basis penjaminan mutu dan perencanaan strategi akademik. Diperlukan upaya peningkatan mutu pelaksanaan pendidikan, mulai dari penentuan profil lulusan, penentuan capaian pembelajaran, perancangan kurikulum, asesmen capaian pembelajaran, evaluasi, dan tindakan perbaikan berkelanjutan (continous quality improvement) berstandar internasional untuk mendapatkan pengakuan akreditasi internasional (ABET, AACSB, ASIIN, JABEE, ABEST21, KAAB, RSC, IMAREST).

img_title Harga Vaksin COVID-19 Produksi Nasional Diprediksi Rp75.000 Per Orang

Para pemegang kebijakan institusi selayaknya mempunyai wawasan dan paradigma yang memadai tentang standar pendidikan dan akreditasi internasional. Oleh karena itu, dipandang perlu untuk dilaksanakan international conference dengan tema ‘Outcome-Based Internal Quality Assurance System’ untuk menemukan strategi yang efektif dan efisien untuk mengembangkan sebuah prodi/institusi yang diakui tidak hanya di Indonesia namun secara global (internasional).

“Perguruan tinggi jangan hanya merasa puas jika telah mendapatkan akreditasi unggul, baik prodi dan institusi, akan tetapi harus terus menerus meningkatkan mutu pendidikan tingginya, bahkan mampu terkareditasi internasional menuju World Class University. Wawasan dan komitmen dalam mengupayakan mutu secara berkelanjutan harus terus diperkuat. Selalu berupaya meningkatkan kualitasnya, sehingga pada akhirnya mampu menghasilkan lulusan-lulusan yang sama kualitasnya dan berdaya saing tinggi untuk berkiprah di arena global,” ujar Plt. Dirjen Belmawa Intan Ahmad.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut