Mbah Ruliyah

Kolase Foto - Wapemred tvonenews.com Ecep S Yasa, background jemaah haji di masjidil Haram.
Sumber :
  • tim tvonenews.com

Tiba tiba saya terngiang ngiang dengan ucapan Nurcholish Madjid tentang konsep hanifiyyat-u al-samhah, hati hati yang pasrah, terbuka, dan lapang mencari kebenaran. Kehanifan tertanam kuat di lubuk hati keduanya tanpa pernah diucapkan. Tak heran jika kehanifan mereka lalu bertaut pada Kabah, rumah suci yang dibangun kembali  oleh “bapak kehanifan” Nabi Ibrahim pada 4.000 tahun lampau.

img_title 400 Ribu Data Tak Valid, Kemenhaj Sebut Masa Tunggu Haji Secara Faktual 14 Tahun

Padahal, kita tahu ibadah haji adalah ibadah fisik. Selama 40 hari, seluruh rukun rukunnya memerlukan kesiapan fisik yang prima. Berlari lari kecil (sai) di sekitar bukit Safa dan Marwah dengan cuaca terik kota Mekkah hingga 40 derazat; wukuf di Padang Arafah yang panasnya melebihi kota Mekkah atau tawaf mengelilingi Kabah di Masjidil Haram adalah perjuangan ibadah yang cukup berat.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Tapi Mbah Ruli dan Mbah Harun tak gentar. Barangkali mereka tahu agama ini selalu memberi ruang pada kemudahan dan kemoderatan. 

img_title Perbaiki Tata Kelola, Prabowo Instruksikan Audit Keuangan dan Berantas Praktik Kecurangan Haji

Sebuah kisah mencatat Nabi memberikan sejumlah kemudahan yang dicatat oleh Abdulah bin Amr dengan detail. Pada pagi hari 10 Dzulhijjah 10 H di Mina, Nabi Muhammad SAW baru saja selesai melempar Jumratul-Aqabah. Seorang Sahabat berkata, “Ya Rasulullah, saya bercukur sebelum menyembelih,” Nabi berkata,”If al, la haraj. Lakukanlah, tidak apa apa.” Yang lain berkata,”Saya baru melempar setelah sore.” Kembali Nabi menjawab: “Laa haraj.” Puluhan orang bertanya, mengajukan cara berhaji termudah untuk mereka dan nabi selalu menjawab,” Laa Haraj.”

Yang tak terlupakan pada 2018 itu selain bertemu dengan Mbah Ruli, saya juga bisa berhaji bersama Ibu. Paling menggetarkan adalah ketika bersama ibu melihat Kabah. 

img_title Prabowo Minta Biaya Haji Tak Memberatkan Masyarakat, Begini Skemanya

Di depan bangunan kubus yang magis justru karena kesederhanaannya itu saya merasa luruh. Mata seketika hangat oleh  lelehan air mata yang kita tahu bukan karena sedih atau putus asa. Saya hanya berdiri di belakang Ibu, sambil mengaminkan apapun doa-doanya. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Tiba tiba seluruh perjalanan hidup seperti diputar ulang. Tuhan terasa sangat dekat, seperti dalam sajak Abdul Hadi WM:
Tuhan, kita begitu dekat/Sebagai api dengan panas/ Aku panas dalam apimu.
Tuhan, kita begitu dekat/seperti kain dengan kapas/ Aku kapas dalam kainmu.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut