Zaqout

Kolase Foto - Wapemred tvonenews.com Ecep S Yasa, background mantan pemain sepak bola Ahed Zaqout
Sumber :
  • tim tvonenews

Namanya Ahed Zaqout. Di lapangan hijau ia kontras dengan 10 pemain lain karena rambutnya pirang dan matanya biru. Kita selalu terkenang perannya sebagai kapten dan larinya yang sangat cepat sebagai gelandang. Ketika membela negaranya dalam tanding persahabatan melawan Prancis, beberapa kali ia memenangi duel di udara dengan bintang dunia Michael Platini.

img_title Reaksi Warga RI usai Timnas Indonesia Gagal Kalahkan Malaysia

Di negerinya ia atlet yang “lurus”. Ia tak seperti petinju Muhammad Ali, misalnya yang selain bicara soal musuh musuhnya di ring tinju, juga gemar bersuara mengkritik rasialisme.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Hidup di zaman malang dengan kekerasan yang dianggap sah dan wajib, Zaqout sebenarnya  punya alasan untuk bersikap seperti mayoritas anak anak Gaza lain: melawan pendudukan Israel. 

img_title Reaksi Kaget Warga Malaysia usai Timnas Indonesia Tak Bisa Dikalahkan meski Tampil 10 Pemain

Jabra Ibrahin Jabra, penyair kelahiran Palestina yang kini tinggal di Irak, dalam Di Gurun Gurun Pengasingan menyebut Palestina dengan:

“Tanah kami zamrud berkilauan,
tetapi di gurun gurun pengasingan. Musim semi demi musim semi,
hanya debu yang beriut di wajah kami…”

img_title Terungkap! Anggota Majelis Ahli Iran Bongkar Fakta di Balik Pengangkatan Mojtaba Khamenei

(Ahed Zaqout (kiri). Sumber: humanizepalestina.com)

Namun, Zaqout tak pernah bicara politik semacam itu, apalagi bersuara pada kekerasan.

Pada wartawan yang sesekali merubungnya usai bertanding, Zaqut pernah berujar, ia hanya ingin bermain sepak bola saja. Dan ia membuktikannya: setelah tak aktif merumput, Zaqout  hanya melatih klub kecil sambil nyambi bekerja sebagai penyiar olah raga.

Pendeknya, Zaqout adalah sebuah teladan hidup yang lempang.

Tapi, di negeri tanpa bangsa, Palestina, tindakan “netral” sekalipun tetap jadi korban. Pada sebuah Rabu celaka, Zaqout ditemukan tewas di tempat tidur dengan tubuh koyak. Pada sebuah serangan, bom Israel menghantam apartemennya. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Esoknya koran koran menulis tewasnya Zaqout sebagai kehilangan besar di negeri yang sangat miskin cerita pahlawan di lapangan hijau. Zaqout yang pernah berduel di udara dengan Michel Platini (sehingga mereka sebagai bangsa merasa setara dengan bangsa lain di dunia) ikut jadi korban kebiadaban itu.

Sepak bola tak pernah jadi permainan yang “normal” di Palestina, bahkan untuk anak anak.  Di kawasan Maale Adumim, Yerusalem, yang merupakan kawasan rampasan Israel, anak anak  yang bosan melihat lalu lalang tank dicegat tentara saat hendak memainkan si kulit bundar. Diskriminasi hanya dilawan oleh anak anak dengan  meninggalkan tempat sambil bernyanyi-nyanyi, “Infantino, biarkan kami bermain.”

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut