Sensor

Kolase Foto - Wapemred tvonenews.com Ecep S Yasa, background sensorship.
Sumber :
  • tim tvonenews

Pramoedya Ananta Toer yang di masa lalu buku bukunya harus kita bawa dengan dibungkus koran atau dibenamkan jauh di dalam tas agar terhindar dari pemeriksaan petugas, kini karya-karyanya dijual dengan harga “selangit” dan ia salah satu pengarang Indonesia yang paling dikenal di pelbagai negeri.  

img_title Gelar Edukasi dan Pemberdayaan, Rumbuk Pesisir Soroti Wilayah Belum Tersentuh MBG

Rezim pengawasan yang melibatkan struktur birokrasi yang panjang ternyata juga bisa mengundang tawa.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

img_title Menkeu Suahasil: Utang Krisis 1998 Lunas, Kita Selesaikan di Agustus

Presiden keempat Republik Indonesia Abdurrahman Wahid memiliki banyak anekdot lucu seputar berhadapan dengan Intel Melayu. Sebagai pegiat organisasi masyarakat sipil, entah di Nahdlatul Ulama ataupun di Forum Demokrasi kehadiran Gus Dur dalam berbagai diskusi memang seringkali dikuntit petugas telik sandi.

Berhasil mensiasati keadaan dengan tak kehilangan humor adalah tanda kecerdasan. Dan Gus Dur salah satu di antara manusia cerdas tersebut.

img_title Pemerintah Tarik Utang Baru Per Agustus 2026, Capai Rp506 Triliun

Tahu tengah jadi sasaran intel, suatu kali dalam sebuah pertemuan dengan berbagai Kyai, Gus Dur meminta pembicaraan dilakukan dengan Bahasa Arab. Diskusi lalu berlangsung gayeng menggunakan bahasa Arab untuk menceritakan perkembangan situasi nasional yang sedang berlangsung di Indonesia.

Ketika si intel ini pulang, lapor ke komandan, lalu komandannya bertanya, “Tadi membicarakan apa?" Lalu si intel ini karena tidak bisa berbahasa Arab, berkata: “Oh tidak ada pembicaraan apa-apa, tidak ada diskusi, tadi itu saling mendoakan," ujar sang anak buah. 

Humor Gus Dur ini tentu lucu, membuat publik yang mendengar terpingkal-pingkal.

Demikian, sensor oleh rezim yang tengah cemas bisa sangat menggelikan. Aparaturnya bahkan  tak hanya ingin mengontrol makhluk hidup, bahkan mengawasi benda mati, seperti matahari dan kuburan.

Saat Orde Baru gerhana matahari diperlakukan seperti film porno. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Rakyat dikontrol (maknanya dilarang) melihat peristiwa alam itu secara langsung. Edaran dibuat agar 11 Juni 1983 warga bagaimanapun caranya selama 7 menit —saat pukul 12 siang— tetap berada di dalam rumah. Pengawasan sangat ketat. Mencekam. Pemerintah menakut nakuti bahaya yang timbul jika berani keluar rumah dan menatap matahari secara langsung.

Semua pekerja profesional, peneliti dari berbagai disiplin keilmuan saat itu seolah takluk berhadapan dengan kuasa Soeharto. Para dokter di Departemen Kesehatan, peneliti LIPI, birokrat di Departemen Penerangan bahu membahu mengikuti instruksi yang kini kita tahu hanyalah tahayul belaka. 

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut