Sri Paus Fransiskus dan Kesederhanaan

Pojok KC - Sri Paus dan Kesederhanaan
Sumber :
  • tim tvonenews

Sekretaris Natsir ketika jadi Perdana Menteri, Maria Ulfa mengungkap hal yang bisa mustahil terjadi di era sekarang. Ketika mengundurkan diri sebagai PM, Natsir menolak dana taktis yang sebenarnya jadi miliknya. Ia memberikan seluruh dana itu untuk koperasi karyawan. Setelah mundur, Natsir seperti orang yang tak kehilangan apapun, ia pulang ke rumah dengan membonceng sepeda bekas sopirnya.

img_title Cape Town Marathon

Ketika Republik masih muda, teladan seperti yang dipraktekan Sri Paus dan  Muhammad Natsir sebenarnya cukup banyak.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Kita tahu Mohammad Hatta, sang proklamator Republik itu, hingga akhir hayatnya  tak mampu membeli sepatu Bally yang sangat diidam idamkan. Ia begitu terobsesi hingga menggunting potongan iklan sepatu Bally dan menempatkannya di sela sela buku yang ia baca. 

img_title Fantastis! Nilai Lukisan Denny JA yang Diberkati Paus Fransiskus Diprediksi Mencapai Rp 34 Miliar

Hingga akhir hayatnya, Bung Hatta hanya memiliki harta berupa  tumpukan buku buku. Buku pula yang menjadi mas kawin saat ia meminang Rahmi Hatta pada 18 November 1945, sesuai janjinya baru akan menikah setelah Indonesia Merdeka.

img_title John Herdman

Saat pensiun Bung Hata bahkan pernah tak bisa membayar tagihan rekening listrik dan PAM. “Bagaimana saya bisa membayar dengan uang pensiun saya,: ujar Hatta lewat surat kepada Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Sahabat Hatta, Soekarno juga pernah menjual mobil pribadinya untuk pembangunan Patung Dirgantara di Pancoran, Jakarta. Setelah lengser dari Presiden, Soekarno terus mencicil biaya pembuatan monument dari kocek pribadi, termasuk menjual mobil kesayangannya Buick seri 8. Hingga Bapak Bangsa ini meninggal dunia pada 1970, hutang itu belum terlunasi pada sang pembuat patung Edhi Sunarso. Saat iring iringan jenazah Soekarno lewat di Jalan Gatot Subroto, Edhi Sunarso masih berada di atas Tugu Patung Dirgantara. “Saya menangis sesenggukan di atas tugu,” ujar Edhi Sunarso seperti yang ditulis dalam buku Meniti Jalan Pembebasan.

Kini ketika Sri Paus melawat ke Indonesia, kita melihat laku hidup sederhana seperti sesuatu yang asing dan jauh, kita telah lama melupakan mutiara mutiara kehidupan di masa lampau, terbenam oleh lumpur peradaban komersialisme dan materialisme. Ecep Suwardaniyasa Muslimin

Presiden Prabowo secara tiba-tiba mengumumkan pemerintah bakal membangun universitas baru, bernama Universitas Republik Indonesia (URI).

Sekolah Baru untuk Republik

Sebuah universitas unggulan tidak lahir terutama karena gedung baru atau nama baru. Ia tumbuh dari ekosistem yang sehat: tata kelola yang baik, kebebasan akademik, pendanaan riset yang konsisten, dosen dan peneliti berkualitas.

img_title
VIVA.co.id
3 Agustus 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut