Puasa Sepuluh Hari Kedua

Pojok KC - Puasa Sepuluh Hari Kedua
Sumber :
  • tim tvonenews

BAGI pendaki spiritual yang tak ingin segera kehilangan momentum agungnya, hari hari di awal Ramadhan ini begitu cepat berlalu. Semua seakan sekelebat saja. Persis ketika kita mengedipkan mata, tiba-tiba kini kita memasuki sepuluh hari yang kedua di bulan puasa 2025. 

img_title Apakah Sah Berpuasa saat Hari Maulid Nabi? Begini Penjelasan Hukumnya

Apa yang bisa kita dapatkan dari perjalanan rohani sepuluh hari yang pertama? Agaknya kita insaf, manusia, seperti pada asal penciptaannya adalah mahluk Tuhan yang selalu berorientasi pada kebaikan. Pada mulanya setiap manusia adalah baik dan punya kecenderungan pada kebaikan. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Tahun boleh berganti, zaman boleh berubah, raja dan pemimpin silih berganti, tapi kehanifan manusia selalu ajeg. Selalu ada sifat yang dititipkan Tuhan pada kita, sifat manusia yang selalu merindukan kebenaran. Jiwanya merasa tenang, hatinya tentram ketika mendapatkan kebenaran.

img_title Rebahan di Kasur Saja, Lemak Tubuh Bisa Rontok? Begini Caranya

Lihat saja betapa semaraknya orang orang menyambut Ramadhan. Sepekan sebelum bulan agung ini tiba, sekolah sekolah mengadakan pawai, tarhib menyambut bulan yang suci ini. Mereka membuat spanduk "Ahlan Wa Sahlan ya Ramadhan 2025" dan banyak poster lain, lalu bersama sama membawanya keliling wilayahnya masing-masing. 

img_title Sekolah Baru untuk Republik

Ilustrasi - shalat tarawih

Photo :
  • ANTARA

Pusat belanja mulai menghias toko tokonya dengan hiasan bernuansa Ramadhan, ada bulan dan bintang, pohon-pohon palem atau gambar gambar masjid yang indah. Tak ketinggalan lagu lagu religi dari Opick atau Bimbo diperdengarkan. 

"Ada anak bertanya pada Bapaknya buat apa berlapar lapar puasa...." Salah satu lagu Bimbo yang selalu saya dengar di pusat pusat belanja saat jelang bulan puasa tiba dari pusat pusat belanja. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Lalu, semua orang asyik masyuk di depan televisi, menunggu pengumuman pemerintah soal awal Ramadhan. Tentu sambil sudah mengenakan baju koko dan peci seakan tak sabar ingin segera berlari ke masjid yang juga biasanya sudah bersiap menyambut jamaah dengan sukacita. Lantai sudah dipel, dindingnya dicat, karpetnya disemprot wewangian. Demikian di hadapan kemanusiaan yang hakiki, semua seperti rindu Ramadhan.

Kini ketika diminta Tuhan mendaki lebih tinggi dan lebih sulit di sepuluh hari yang kedua, kita bertemu ciri kemanusiaan yang lain: insan yang mudah lupa. Kini zamak kita lihat masjid masjid kini mengalami “kemajuan”. Syaf, barisan shalat yang pada awal awal puasa luber hingga ke halaman, semakin hari semakin maju ke depan. Kini setengah masjid saja sudah cukup untuk menampung jamaah. Dan kesibukan kita teralihkan kembali untuk hal-hal jangka pendek, sesuatu yang sebentar dan sementara. 

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut