Purna Tugas Menjadi Jurnalis tvOne
- Istimewa
TvOne-lah yang menumbuh lebatkan naluri kewartawanan Ecep S Yasa
- Istimewa
Saya memang datang dengan momentum yang tepat, saat stasiun televisi tengah berubah format dari media hiburan semata ke teve news.
Profesi jurnalis jadi bernilai ketika memiliki jaringan luas dan daya tembus tinggi. Ia punya istilah untuk wartawan yang betah ngendon di kantor: “wartawan belah pantat”. Nyatanya itu ia buktikan di sepanjang karirnya. Ia ikut blasak-blusuk melaporkan peristiwa langsung dari lapangan, di tengah penggerebekan teroris, di antara desing peluru, saya menyaksikan Pak KI terus melaporkan peristiwa.
Saya memang datang dengan momentum yang tepat, saat stasiun televisi tengah berubah format dari media hiburan semata ke teve news. Di sini saya belajar produksi berita mulai dari dasar, saya merencanakan tema, menyusun rencana liputan, membuat outline, menghubungi narasumber, mereportase, menulis naskah berita hingga mendampingi editing. Saya belajar mendesain produksi program berita investigatif mendalam gaya majalah (news magazine).
Masa itu, sejumlah liputan eksklusif semacam penggerebekan teroris di Temanggung, Eksekusi Mati Trio Bom Bali, ledakan demi ledakan bom di kasus terorisme, Sindikat Narkoba Fredy Budiman, tersaji begitu kuat dan diminati publik tanah air.
Hingga kini saya tetap merasa tvOne adalah almamater terbaik saya. Saya hampir pernah mengurus segala hal berkait dengan operasional stasiun televisi, dari program sampai frekuensi, dari ob van sampai satelit, dari peliputan hingga produksi.
Bersama tvOne, saya merasakan masa keemasan stasiun televisi berita. Berita kami berdampak secara pengaruh, maupun secara bisnis. Hasilnya pengiklan mengalir deras, pendapatan perusahaan meningkat tajam dan pada gilirannya berdampak pada kesejahteraan karyawan.
Namun, tak ada yang abadi di kolong bumi. Seiring dengan pertumbuhan akses internet yang begitu pesat dan munculnya smartphone yang memudahkan konsumsi berita secara real-time, perlahan lanskap industri ini berkembang lebih cepat dari yang dibayangkan.
Dahulu pemirsa harus menonton teve di jam-jam tertentu untuk mendapatkan berita, kini berita tersedia on-demand, kapan pun dan di mana pun, lewat gawai dan media sosial. Bahkan audiens kini tidak hanya sebagai konsumen berita, tetapi juga sebagai distributor (melalui share) dan produsen (user-generated content). Ini menciptakan era partisipasi dan kecepatan yang tak dimiliki media konvensional.
Yang paling memukul adalah media digital, ia mampu melacak perilaku pengguna dan menawarkan konten serta iklan yang disesuaikan, sesuatu yang sulit dilakukan media cetak atau televisi konvensional. Dengan biaya lebih murah, namun bisa mengukur dan menargetkan pemirsa dengan lebih spesifik, perusahaan akhirnya lebih memilih beriklan di platform digital, seperti Google, Facebook atau Instagram.