Erdogan Ngamuk, Turki Bakal Lumat Haftar dan Singa LNA

VIVA Militer: Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan
Sumber :
  • The Yeshiva World

VIVA – Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, mengutuk keras serangan membabi buta pasukan Tentara Nasional Libya (LNA) di sejumlah tempat di Tripoli akhir pekan lalu. Turki dengan tegas menyebut tindakan pasukan Marsekal Khalifa Haftar sebagai kejahatan perang.

img_title Dari Pabrik Chip hingga Pusat Data AI, Inilah Medan Pertempuran Baru yang Jarang Terlihat oleh Publik

Bandara Internasional Mitiga, Pelabuhan Tripoli, pemukiman sipil, serta rumah Duta Besar Turki dan Italia, jadi sasaran rudal grad milik pasukan LNA, Sabtu 9 Mei 2020.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Menurut laporan The Libya Observer, pasukan LNA menghujani Tripoli dengan lebih dari 100 roket grad. Akibatnya, enam orang warga sipil tewas sementara lusinan orang mengalami luka-luka.

img_title Mengenal Kahvalti, Tradisi Sarapan Turki yang Bikin Orang Betah Berlama-lama di Meja Makan

Kabar serangan pasukan LNA sepertinya sudah sampai ke telinga Erdogan. Sebab, Kementerian Luar Negeri Turki memastikan bakal mengambil sikap tegas jika pasukan Haftar masih terus melakukan serangan. 

"Serangan ke Bandara Mitiga Tripoli pada Sabtu pagi, bagian dari rentetan tembakan artileri di ibukota, adalah kejahatan perang," bunyi pernyataan Kementerian Luar Negeri Turki dikutip Reuters.

img_title PBB hingga PPP Gugat UU Pemilu ke MK, Ada Dua Pasal yang Disorot Jelang 2029

"Jika misi dan kepentingan kami di Libya menjadi sasaran (serangan), kami akan menganggap pasukan Haftar sebagai target yang sah," lanjut pernyataan Kementerian Luar Negeri Turki.

Tak hanya itu, Kementerian Luar Negeri Turki juga mendesak Persatuang Bangsa-Bangsa (PBB) untuk melakukan tindakan. 

Kemudian, kecaman juga dilayangkan kepada sejumlah negara yang memberikan dukungan kepada Haftar dan LNA yakni Mesir, Rusia, dan Uni Emirat Arab harus bertanggung jawab atas situasi chaos yang terjadi di Libya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Tidak bisa diterima bagi PBB untuk tetap diam terhadap pembantaian ini lebih lama," bunyi pernyataan Kementerian Luar Negeri Turki.

"Negara-negara yang menyediakan bantuan militer, keuangan, dan politik untuk Haftar, bertanggung jawab atas penderitaan yang dialami rakyat Libya, dan kekacauan serta ketidakstabilan yang sedang terjadi di negara ini," lanjut pernyataan Kementerian Luar Negeri Turki.

JK menyampaikan kuliah umum bertajuk

Bicara di Harvard, JK Ingatkan soal Perang Dunia hingga Korupsi yang Menekan Ekonomi Indonesia: Uang Saja Tidak Cukup!

Di Harvard, JK menegaskan dinamika geopolitik tidak hanya menentukan arah hubungan antarnegara, tetapi juga memengaruhi stabilitas ekonomi dan kehidupan masyarakat.

img_title
VIVA.co.id
23 Oktober 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut