Pemimpin Hamas dan Hizbullah Bertemu, Israel Terancam
- aa.com
Perjanjian kesepakatan damai antara Israel dan UEA itu pun menjadi perhatian seluruh dunia internasional, khususnya negara-negara muslim di kawasan Timur Tengah, termasuk kelompok Hizbullah dan Hamas. Mereka mengingatkan kepada UEA agar tidak menjadi penghianat di kawasan Timur Tengah dengan membiarkan Israel tetap menjajah Palestina. Menurut Hizbullah dan Hamas, perjanjian damai antara Israel dan UEA tidak menjadi sesuatu yang membanggakan jika Israel tidak keluar dari Palestina.
Informasi yang dihimpun VIVA Militer dari berbagai sumber, rencana penandatangan kerja sama pembelian F-35 yang rencananya akan dilakukan pada 13 September mendatang di Gedung Putih pun mendapatkan kecaman dari Kepala Intelijen Israel Eli Cohen. Pentolan intelijen Israel itu tidak setuju jika UEA memiliki F-35 dari AS seperti halnya Israel saat ini. Menurut Cohen, jika UEA memiliki pesawat tempur modern F-35 maka kekuatan tempur UEA akan berkembang, dan dia mengkhawatirkan perkembangan kekuatan militer UEA dapat menjadi ancaman bagi Israel dalam waktu mendatang.
Penolakan pembelian F-35 UEA oleh Israel itu pun menjadi isyarat bahwa kesepakatan perjanjian normalisasi hubungan Israel dan UEA yang difasilitasi oleh AS itu teracam rusak. Situasi ini juga menunjukkan bahwa Israel akan tetap pada pendiriannya, dan ambisinya untuk menjadi negara yang memiliki kekuatan tempur di atas negara-negara islam di kawasan Timur Tengah. Dan itu artinya, Israel tidak akan melepaskan Palestina dari klaim kepemilikan wilayahnya.Â
Pertemuan antara pemimpin Hizbullah dan Hamas yang diyakini untuk memperkuat poros perlawanan terhadap Israel itu kemungkinan besar akan membuat perhitungan dalam waktu dekat ini kepada Israel.