NATO Ancam Keroyok Rusia Jika Terus Sebar Teror Perang di Ukraina

VIVA Militer: Pasukan militer Rusia
VIVA Militer: Pasukan militer Rusia
Sumber :
  • rferl.org

VIVA – Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) meminta dengan tegas kepada Rusia untuk menarik mundur pasukannya dari Ukraina, Moldova dan Georgia. Kampanye militer Rusia yang mengerahkan lebih dari 120 ribu personel dianggap ilegal dan mengancam negara-negara sekutu NATO.

Rusia kerap membantah tuduhan Amerika Serikat (AS) dan NATO jika pengerahan pasukannya ke sepanjang perbatasan Ukraina adalah untuk melakukan agresi militer. Hal yang sama juga dilakukan Rusia saat ribuan pasukan lainnya dikirim ke Belarus, yang membuat kekhawatiran pecahnya Perang Rusia-Ukraina semakin besar.

Rusia hanya menyatakan bahwa pasukan yang berada di Belarus hanya akan melakukan latihan militer gabungan dengan negara sekutunya di Pakta Pertahanan Keamanan Kolektif (CSTO). Sekretaris Jenderal (Sekjen) NATO, Jens Stoltenberg, kembali angkat bicara dan meminta dengan tegas Rusia harus menarik pasukannya.

"Kami menghadapi momen kritis untuk keamanan Euro-Atlantik,” ucap Stoltenberg dikutip VIVA Militer dari Commonspace.

“Pembangunan militer Rusia di dalam dan sekitar Ukraina terus berlanjut, dengan lebih dari 100 ribu tentara dalam posisi dan lebih banyak lagi. Termasuk pengerahan signifikan di Belarus," katanya.

VIVA Militer: Sekretaris Jenderal NATO, Jens Stoltenberg (kedua dari kanan)

VIVA Militer: Sekretaris Jenderal NATO, Jens Stoltenberg (kedua dari kanan)

Photo :
  • kyivpost.com

Ada tiga hal yang yang menjadi perhatian NATO jika Rusia terus meningkatkan aktivitas militernya di sepanjang perbatasan Ukraina. Oleh sebab itu, Stoltenberg meminta Rusia untuk mempertimbangkan jalur diplomasi yang terputus dengan NATO.

Stoltenberg meminta Rusia untuk kembali melakukan dialog untuk mengurangi risiko konfrontasi bersenjata. Kemudian, NATO juga menyatakan siap untuk mendengar apa yang menjadi kekhawatiran Rusia. Dan yang ketiga, NATO kembali meminta Rusia untuk melakukan transparansi dan pengendalian senjata nuklirnya.

Meski demikian, Stoltenberg tetap mengedepankan sikap NATO yang akan membela negara-negara sekutunya. Bukan tak mungkin menurut Stoltenberg, NATO akan memberikan respons keras jika Rusia benar-benar melancarkan serangan ke Ukraina.

"NATO siap untuk bertemu sesegera mungkin. Dalam semua upaya, kami terus berkoordinasi erat dengan Ukraina dan mitra NATO lainnya, termasuk Finlandia, Swedia, Georgia dan tentu saja Uni Eropa," kata Stoltenberg melanjutkan.

"Tetapi, kami tidak bisa dan tidak akan berkompromi pada prinsip-prinsip yang menjadi sandaran keamanan aliansi kami dan keamanan di Eropa dan Amerika Utara. Kami akan mengambil semua langkah yang diperlukan, untuk membela dan melindungi semua sekutu," katanya.