Ternyata di Kapal Perang TNI Ini Ada Sejarah Heroik Pemuda Tionghoa

VIVA Militer: KRI John Lie 358
VIVA Militer: KRI John Lie 358
Sumber :
  • Wikipedia

VIVA – Berbicara mengenai China yang beberapa waktu lalu sempat memberanikan diri untuk menginjak lautan Indonesia, ternyata ada salah satu kapal perang RI yang namanya diambil dari salah satu nama tokoh pahlawan nasional yang keturunan Tionghoa.

KRI John Lie 358 diturunkan pemerintah Indonesia menjaga Natuna dari kapal nelayan China yang hendak ingin menyabotase ikan di perairan Indonesia. Sama seperti dengan KRI Bung Tomo 357 dan KRI Usman Harun 359, KRI John Lie 358 juga berjenis kovret.

Dilansir berbagai sumber Jumat 21 Mei 2020, kapal laut buatan Angkatan Laut Brunei Darussalam ini ternyata nama sebelumnya adalah KDB Nakhoda Ragam. Kapal yang dilengkapi Radar Tracker untuk senjata itu mampu mengendalikan arah dan elevasi secara akurat terhadap sasaran Meriam 76 mm Otomelara Super Rapid Gun (OSRG).

Sementara itu ada senjata lain yaitu 30 mm di lambung kanan dan kiri kapal yang dapat berperan sebagai CIWS (Close in Weapon System) jika ada bahaya udara mengancam kapal tersebut.

Sosok John Lie Tjeng Tjoan rupanya merupakan sosok yang sangat penting saat Indonesia masih dijajah Belanda sekitar tahun 1947 dan 1948. Saat itu Belanda melakukan agresi militer, sehingga wilayah NKRI hanya meliputi Yogyakarta dan sebagian Sumatera saja.

VIVA Militer: Laksamana Muda TNI AL (Purn) John Lie

Singkat cerita, berkat keberanian serta keberuntungan yang dimiliki Laksda John Lie, ia berhasil lolos dari The Outlaw (kapal Belanda yang besar). Sehingga ia bersama ABKnya berhasil lolos ke Singapura untuk melakukan pertukaran teh, karet, dan hasil bumi lainnya dengan senjata.

Tidak hanya senjata, John Lie juga membawa kebutuhan lainnya yang sedang dibutuhkan oleh Indonesia. Ia diketahui seorang penganut agama Kristen yang taat, sehingga sebuah majalah luar negeri menggambarnya saat salah satu tangannya memegang Alkitab dan tangan yang lainnya memegang senjata.

Namun, latar belakang kepercayaan tidak menjadi masalah. John Lie juga diketahui sebagai pemasok senjata untuk para pejuang di Aceh dan Sumatera yang Muslim. Berkat keberaniannya itu, ekonomi Indonesia berhasil diselamatkan dan mampu memberikan pandangan kepada dunia luar bahwa kapal ALRI mampu menembus blokade Belanda.

Setelah memimpin kapal perang ALRI untuk menumpas pemberontakan Republik Maluku Selatan maupun PRRI/Permesta, pada tahun 1966 ia pensiun dari ALRI dengan pangkat terakhir Laksamana Muda. Kemudian ia mendedikasikan sisa waktunya untuk agama dan orang-orang miskin sampai meninggal tahun 1988.

21 tahun setelah kematian John Lie tepatnya pada tahun 2009, melalui Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, John Lie dianugerahkan pahlawan nasional untuk pelaut yang pemberani ini. Sejak itulah, John Lie menjadi pahlawan nasional pertama yang keturunan etnis Tionghoa.