Kisah KSAD Bertangan Satu Dianggap Penghianat oleh Anak Buah

VIVA Militer : KSAD ke-4, Jenderal Mayor (Purn) TNI Bambang Utoyo
VIVA Militer : KSAD ke-4, Jenderal Mayor (Purn) TNI Bambang Utoyo
Sumber :
  • Disjarah TNI AD

Menjalankan keputusan itu tidak lah mudah, sebab amarah para pejuang TRI dan para laskar sudah memuncak dengan Belanda setelah berbagai pertempuran panjang yang terjadi selama Lima Hari Lima Malam sebelumnya. Dari segi kedudukan pun, para pejuang dan laskar-laskar meyakini bahwa Belanda dapat dikalahkan hari itu, karena posisi mereka sudah terkepung oleh kekuatan tentara TRI dan laskar-laskar.

Disatu sisi, instruksi Presiden Soekarno yang meminta perundingan dilakukan harus tetap dijalankan. Sehingga Kolonel Bambang Utoyo bersama Gubernur Sumatera Selatan Dr.M.Isa memutuskan untuk keliling menghampiri para komandan pasukan yang tersebar di sejumlah wilayah berbeda untuk memberikan penjelasan dan berbagai pertimbangan kepada para pasukan agar menghentikan pertempuran dan memilih untuk mematuhi instruksi Pemerintah Pusat dengan menjalankan perundingan dengan Belanda.

Pada saat menemui para pemimpin front rakyat di Seberang Ilir, ternyata sempat ada insiden yang mengerikan. Salah satu anggota front dari Anggota TRI Seberang Ilir tidak terima dengan keputusan yang diambil oleh Panglima Divisi Garuda II itu. Sampai-sampai, salah seorang Anggota TRI itu melepaskan tembakan ke arah Kolonel Bambang Utoyo dan Gubernur Sumsel, Dr.M.Isa sambil berteriak "mampuslah kalian pengkhianat" teriak salah satu Anggota TRI yang tidak disebutkan namanya. untung saja tembakan anggota itu tidak mengenai Panglima dan Gubernur. 

Insiden itu hampir saja menghilangkan nyawa Kolonel Bambang Utoyo dan Gubernur Sumsel, Dr.M.Isa. Meskipun sempat mendapat serangan, Kolonel Bambang Utoyo tetap menjelaskan kepada para front rakyat yang saat itu memiliki semangat tempur mengalahkan Belanda. Sampai pada akhirnya, seluruh front dan laskar-laskar pejuang di Sumatera Selatan mengikuti keputusan yang diambil oleh Panglima Divisi Garuda II untuk menghentikan peperangan dan mengambil jalur perundingan demi menjalankan perintah Pemerintah Pusat.