Prostitusi Marak, Ribuan Remaja Sakit Kelamin

Pasien penyakit kulit dan kelamin di RSUD tutup sejak 1 Februari
Sumber :
  • Ikhsan Mahmudi | Surabaya Post

VIVAnews – Ribuan remaja di Jakarta menderita penyakit kelamin diduga akibat maraknya pelacuran, perubahan pola pergaulan dan kurangnya pendidikan seks.

img_title Kemendagri Dorong Transformasi Penilaian Kinerja ASN dalam Kebijakan TPP

Data mengejutkan tersebut diungkap oleh Kepala Bidang Pengendalian Masalah Kesehatan Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Ida Bagus Nyoman Banjar,  Jumat, 15 Oktober 2010.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Secara keseluruhan, kata dia, angka penderita penyakit kelamin di Jakarta berjumlah 9.060 orang, dengan rincian 5.051 orang berjenis kelamin perempuan dan sisanya pria. Dari total jumlah penderita tersebut, 3,007 di antaranya masih berusia antara 14 dan 24 tahun.

img_title Tarif Ekspor ke Eropa Terancam Naik, Mendag Kejar IEU-CEPA Berlaku Januari 2027

Jenis penyakit kelamin yang mereka derita antara lain,  herpes, infeksi jamur, syphilis, vaginitis, bisul pada alat kelamin atau HPV, kutu kelamin, kutu di bawah kulit, dan AIDS.

Banyaknya penderita penyalit kelamin pada kalangan remaja, menurut Nyoman Banjar, karena maraknya praktik prostitusi dan perubahan pola pergaulan. "Kebanyakan penyakit kelamin ini ditimbulkan dari pola seksual yang salah, sehingga jika tidak diwaspadai maka akan berpotensi pada HIV/AIDS."

img_title Kasus Dugaan Kekerasan Seksual Betrand Peto Naik ke Penyidikan, Polisi Siapkan Pemeriksaan Lanjutan

Nyoman Banjar menduga jumlah penderita penyakit kelamin di Jakarta lebih dari 9.060 orang, mengingat masih banyak  orang yang malu menjalani pengobatan ke rumah sakit atau pun ke Puskesmas.

Menurut Danang Triwahyudi, dokter spesialis kulit dan kelamin di Rumah Sakit Dharmais dan Metropolitan Medical Center,  makin meningkatnya penderita penyakit kelamin ini karena pendidikan seks yang kurang. “Dan itu terjadi bukan hanya di Jakarta tetapi di Indonesia. Coba mana pernah ada pendidikan seks di sekolah, apalagi di rumah,” kata Danang, Jumat 15 Oktober  2010.

Dia menambahkan, yang sering dan kerap terjadi adalah larangan, bukan pendidikan seks. “Yang banyak terjadi adalah, ini jangan itu jangan.  Padahal seharusnya, kalau mau begini, harus begini, kalau mau begitu, harus begitu.”

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Pentingnya seks aman dan sehat seharusnya diberitahukan sejak awal, bukan hanya larangan. “Sulit kalau semuanya ditabukan tanpa ada pemberitahuan bagaimana yang sebenarnya,” kata Danang.
Menjadi makin dilematis ketika pemberitahuan tentang seks yang benar malah dianggap menganjurkan. “Padahal itu dua hal yang berbeda,” katanya.

Psikolog yang juga Direktur N Consultant, Rinny Soegiyoharto, mengatakan hal senada.  Remaja kini banyak yang terkena penyakit kelamin karena mereka belum atau tidak memiliki pemahaman yang baik dan benar mengenai kesehatan reproduksi, terkait perilaku bersih dalam memperlakukan alat kelamin.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut