I Love You, Ayah

Ilustrasi
Sumber :
  • U-Report

VIVA.co.id – Pagi ini kota rantau tak terlalu bersahabat. Sepertinya akan hujan. Rasa panas membuatku basah karena keringat. Tak ada kegiatan khusus hari ini. Hanya mendengar ibuku bercerita panjang lebar melalui telepon genggam yang sudah dari 45 menit yang lalu menempel di telinga.

Besarnya Cinta untuk Ayah

Panas. Mencurahkan beberapa keluhan hati yang seharusnya tak kudengar. Tapi sejak aku duduk di bangku sekolah dasar, saat usiaku menginjak 12 tahun, ibu sudah sering menangis di depanku. Kalaupun menangis di belakangku, aku tetap menyadarinya. Ibu menceritakan banyak kesedihannya. Ingin rasanya aku menolak menjadi pendengarnya. Tapi aku memilih diam sebagai baktiku menjadi putri yang tak mampu menjadi apa yang benar-benar dia inginkan.

Ayah, menjadi cerita ibu setiap kali dia bersedih. Semua luka yang ayahku buat untuknya menjadi kisah yang tak pernah berakhir untukku. Banyak kekecewaan yang ibu ceritakan. Luka yang tergores sejak lama dan selalu menjadi kesalahan yang sama dari ayah. Entah sadar atau tidak, kisah ibu tentang kekecewaannya kepada ayah justru menumbuhkan kebencianku pada ayah juga secara perlahan, tapi pasti. Hingga aku sampai pada satu titik di mana aku sendiri tak tahu harus bersikap apa, dan harus menceritakan kebingungan ini pada siapa.

Musyawarah Besar Himpunan Mahasiswa Sastra Inggris UMI

Satu siang di saat aku masih duduk di bangku sekolah dasar, di mana pertengkaran malam yang ayah dan ibu lakukan sudah menjadi hal biasa yang aku dengar di sela tidur malamku. Ayah memanggilku masuk ke dalam kamar kecil kami. Kamar yang selalu menjadi tempat paling hangat bagiku berubah menjadi tempat paling sesak yang pernah aku masuki.

Ibu duduk di sudut kasur lusuh tempat kami bercanda dengan ayah untuk menikmati waktu. Tapi kini kasur itu menjadi dingin seperti es. Aku benci mengingat susasana itu. Ibu dengan wajah yang menggambarkan banyak luka di hatinya duduk dengan tatapan kosong. Tak ada kata yang terucap dari bibirnya. Ayah dengan wajah sedih (mungkin wajah sedih pertama ayah yang aku lihat sepanjang hidupku) dan suara parau mulai berkata-kata.

Wahai Orang yang Tidak Berpuasa, Hormatilah Bulan Ramadan

Aku tak mengerti semua kata yang ayahku ucapkan kala itu. Aku hanya mampu menarik kesimpulan sedikit dari semua kata sampah yang keluar dari mulutnya. "Ayah juga menderita di rantau, ayah juga kelaparan di sana, ayah tak mampu menyenangkanku seperti anak seusiaku pada umumnya, ayah mohon pengertianku, dan bla...bla...bla...." Air mata turun begitu saja. Aku hanya tahu ayah pun terluka. Tapi entah apakah ini rasa sedih karena ayahku mengalami banyak kesulitan atau ini rasa benci karena ayahku tak mampu menjadi ayah yang sebagaimana mestinya.

Luka itu tak kunjung sembuh bahkan membekas hingga kini. Sampai rasa bingung ini ada, aku masih tak mampu menjelaskan perasaanku kala itu. Sejak hari itu ibu tak pernah berhenti menceritakan kesedihannya padaku. Rasa kecewa pada ayah menjadi hal berulang yang ibu ceritakan padaku. Aku semakin membenci ayah. Iya, ayahku sendiri. Tapi tak jarang juga aku mengasihaninya.

Namun, rasa kecewaku sudah terlampau besar. Sejak hari itu, aku tak mampu menjelaskan bagaimana perasaanku untuk ayah. Ada kalanya aku sangat menyayanginya dan ingin anakku kelak memiliki ayah seperti ayahku. Ayah, seberapa besar deritamu, kau tak pernah mau membaginya denganku. Tak seperti ibu, dia selalu banyak bercerita denganku. Ayah, mengapa tak kau ceritakan pedihmu agar aku tahu. Setidaknya biarkan aku memiliki alasan agar tidak terlalu membencimu karena rasa kecewa yang kau torehkan di saat aku masih terlalu muda untuk benar-benar mengerti keadaanmu.

Ayah, apakah kau sadar kalau kau telah melukai kami, anak-anakmu? Kau membuat kami tak mampu percaya lagi padamu. Membuat kami selalu ingin menjauhimu perlahan. Ayah, pernahkah kau bertanya pada kami, bagaimana perasaan kami ketika kau kecewakan kami? Tak ada kata maaf yang terucap darimu Ayah. Tak sekalipun, atas semua rasa kecewa yang, aku tak tahu, sadar atau tidak kau goreskan pada kami. Tanpa ada penjelasan yang membuat kami mengerti keadaanmu.

Dengan sekuat tenaga, dengan air mata, kami berusaha mengerti keadaanmu ayah, ya dengan cara kami. Tak pernah mau kau terlihat lemah di depan kami. Terima kasih untuk selalu berusaha kuat di depan kami. Tapi ayah, itu membuatmu terlihat tidak hidup. Mengapa tak kau katakan saja kau pun punya kelemahan agar kami sadar kau pun manusia seperti kami. Kau bukan manusia super yang tak rapuh. Itu tidak akan menghilangkan kuasamu sebagai seorang pemimpin di kapal mungil ini.

Kami pun tak akan meninggalkanmu jika kau mau sedikit saja menyadarkan kami bahwa kau pun bisa melemah entah karena apa. Ayah, kau terlalu angkuh. Ingin terlihat sempurna untuk kami, tapi kau justru menyakiti kami. Ayah, terlalu rendahkah untuk menjadi lemah di depan kami? Kami anak-anakmu, darahmu ada dalam tubuh kami dan bukan berarti kelemahanmu tak ada pada kami. Kami tak akan menjatuhkanmu ketika lemah. Kami ingin bisa mengangkatmu ketika lemah. Bukankah itu yang namanya "Keluarga"?

Ayah, kau yang tanamkan semua nilai pada kami, jauh sebelum kami mengenal apa itu arti norma yang sesungguhnya. Kau mengajarkan kami untuk tidak takut. Tapi kini, justru kaulah yang "takut" untuk menunjukkan kelemahanmu. Menunjukkan sisi terlemahmu pada kami. Ayah, aku membencimu karena kau terlalu ingin terlihat kuat di depan kami. Tanpa kau sadari itu membuatmu terlihat seperti pembuat onar yang melukai siapapun tanpa kau sadari.

Keangkuhanmu membuat kami banyak terluka. Apakah kau tak bisa meminta maaf untuk ini? Dan mulailah menunjukkan pada kami kalau kau juga manusia yang mampu merasakan sakit. Ayah, aku tetap menyayangimu dan sedih ketika kau terluka. Ingin membahagiakanmu. Tapi kau terlalu angkuh untuk menerima semua rasa tulusku.

Ayah, mengertilah, kami bukan penonton yang hanya ingin melihat kehebatan lakon di atas panggung. Kami bagian darimu. Kami adalah darahmu. Sebagian dari nafasmu. Walau kami bukanlah dirimu ayah. Tapi kami berhak untuk tahu kesakitanmu agar kami mampu berdoa pada Tuhan agar menggantikan sakit yang kau rasa untuk menjadi sakit kami.

Ayah, kau masih ada di dalam setiap bait doaku. Walau terkadang ada rasa enggan mendoakanmu karena rasa kecewa yang terkadang masih terasa sakit. Ayah, bagaimanapun rasa benciku ini tumbuh dan menyiksa. Satu hal yang mampu kupastikan untukmu ayah. I Love You, Ayah. (Tulisan ini dikirim oleh Galuh, Jakarta)

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya