Peminat LCGC Turun, Gara-gara Mobil Listrik?

Mobil Honda Brio Satya di GJAW 2025
Sumber :
  • VIVA/Muhammad Thoifur

Jakarta, VIVA – Pasar otomotif Indonesia menunjukkan dinamika yang menarik sepanjang 2025 dengan munculnya tren pergeseran preferensi konsumen. Segmen mobil murah ramah lingkungan atau LCGC justru mengalami tekanan di tengah pertumbuhan kendaraan listrik berbasis baterai.

img_title Ojol Korban Tabrakan Mobil Listrik di Kawasan Blok M Alami Patah Tulang, Grab Beri Pendampingan

Data industri menunjukkan penjualan wholesales LCGC sepanjang 2025 hanya mencapai sekitar 122 ribu unit. Angka tersebut turun cukup tajam dibandingkan tahun sebelumnya yang masih mencatatkan permintaan lebih tinggi.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Di sisi lain, kendaraan listrik berbasis baterai atau BEV justru mengalami lonjakan signifikan. Penjualan BEV meningkat lebih dari dua kali lipat dari sekitar 43 ribu unit menjadi 103 ribu unit sepanjang periode yang sama.

img_title Mobil Listrik Tabrak Ojol di Kawasan Blok M, Korban Alami Patah Tulang

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyebut tren tersebut menandakan perubahan pola konsumsi kendaraan masyarakat Indonesia. “Tren tersebut menunjukkan adanya pergeseran signifikan menuju kendaraan ramah lingkungan,” ujarnya saat pembukaan pameran IIMS 2026, dikutip VIVA Otomotif Kamis 5 Februari 2026.

Penurunan LCGC menjadi fenomena menarik karena segmen tersebut sebelumnya dikenal sebagai tulang punggung pertumbuhan pasar mobil nasional. Mobil murah biasanya menjadi pilihan utama masyarakat yang ingin memiliki kendaraan pertama dengan harga terjangkau.

img_title Green SM Buka-bukaan soal Pendapatan Driver, Sehari Bisa Rp 400 Ribu

Namun, perubahan kebijakan pemerintah dan meningkatnya kesadaran terhadap kendaraan ramah lingkungan mulai mengubah arah pasar. Dukungan terhadap elektrifikasi kendaraan juga mendorong produsen memperluas lini produk berbasis listrik.

Pemerintah sendiri menargetkan percepatan adopsi kendaraan elektrifikasi untuk mendukung program penurunan emisi karbon nasional. Agus menegaskan, “Sejalan dengan komitmen pemerintah dalam mencapai target net zero emission paling lambat 2060, bahkan sektor manufaktur ditargetkan bisa mencapainya lebih cepat.”

Selain faktor kebijakan, perkembangan teknologi baterai serta ketersediaan model kendaraan listrik yang semakin beragam turut memengaruhi minat konsumen. Produsen otomotif juga mulai menempatkan kendaraan listrik sebagai strategi utama menghadapi perubahan pasar global.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Kondisi ini memunculkan tantangan baru bagi segmen kendaraan konvensional, khususnya mobil murah. Produsen dituntut beradaptasi dengan perubahan tren sekaligus menjaga daya saing harga agar tetap menarik bagi masyarakat.

Perubahan struktur pasar juga terjadi di tengah tekanan industri otomotif nasional yang belum sepenuhnya pulih pascapandemi. Agus menyampaikan, “Pemulihan industri otomotif memang mulai terlihat, tetapi rebound tersebut belum sepenuhnya kokoh dan masih menghadapi berbagai tantangan.”

Ilustrasi ganjil genap.

Nasib Bebas Ganjil-Genap Mobil Listrik

Moeldoko mengusulkan evaluasi bebas ganjil-genap mobil listrik di Jakarta saat populasinya mencapai 30 persen. Insentif EV dinilai masih diperlukan untuk mendorong adopsi

img_title
VIVA.co.id
26 Oktober 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut