Isi Bensin dari Udara, Emang Bisa? Ini Faktanya
- Carscoops
China, VIVA - Sebuah terobosan di bidang energi kembali muncul dari Tiongkok. Perusahaan rintisan Carbonology mengklaim mampu memproduksi bahan bakar setara bensin hanya dari air dan udara. Inovasi ini dinilai bisa menjadi alternatif di tengah upaya mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.
Dilansir VIVA Otomotif dari Congluan, Senin 24 Maret 2026, secara konsep, teknologi yang digunakan sebenarnya cukup sederhana untuk dipahami. Perusahaan tersebut menangkap karbon dioksida (CO₂) dari udara, kemudian menggabungkannya dengan hidrogen yang dihasilkan dari air. Dari proses tersebut, dihasilkan bahan bakar sintetis yang bisa digunakan layaknya bensin, diesel, hingga bahan bakar pesawat.
Bahan bakar sintetis sendiri merupakan bahan bakar buatan yang tidak berasal langsung dari minyak bumi. Dalam konteks otomotif, keunggulannya adalah dapat digunakan pada mesin konvensional tanpa perlu banyak perubahan, berbeda dengan kendaraan listrik yang membutuhkan sistem penggerak baru.
Carbonology menyebut proses produksinya juga memanfaatkan energi terbarukan seperti tenaga surya dan angin. Artinya, jika seluruh rantai produksinya berjalan optimal, emisi yang dihasilkan bisa lebih rendah dibandingkan bahan bakar fosil.
Meski demikian, teknologi ini bukan sepenuhnya baru. Sejumlah produsen otomotif global sebelumnya juga telah mengembangkan bahan bakar sintetis sebagai solusi transisi menuju energi bersih. Namun, kendala utama selama ini adalah biaya produksi yang tinggi.
Dalam hal ini, Carbonology mengklaim telah menemukan cara untuk menekan biaya agar lebih kompetitif. Perusahaan yang berdiri pada 2024 tersebut bahkan telah membangun pusat riset dan pengembangan di Shanghai dengan nilai investasi mencapai 300 juta yuan. Fasilitas ini dilengkapi lini produksi bahan bakar sintetis, termasuk untuk kebutuhan aviasi.
Langkah ini sejalan dengan strategi Tiongkok yang tengah mempercepat pengembangan energi alternatif. Saat ini, negara tersebut masih mengimpor lebih dari 70 persen kebutuhan minyak mentahnya, sehingga inovasi seperti ini dinilai penting untuk memperkuat ketahanan energi nasional.
Namun, jalan menuju penggunaan massal masih cukup panjang. Produksi bahan bakar sintetis membutuhkan energi dalam jumlah besar. Karena itu, pengembangannya idealnya dilakukan di wilayah yang memiliki pasokan energi terbarukan melimpah, seperti tenaga surya dan angin.