BYD Soroti Ketidakpastian Global dan Ketergantungan BBM

Booth BYD di GIIAS 2024
Sumber :
  • Arianti Widya

Jakarta, VIVA -  Ketidakpastian geopolitik global dan ketergantungan terhadap energi fosil dinilai menjadi alasan penting percepatan transisi menuju kendaraan listrik di Indonesia. Hal itu disampaikan BYD melalui Head of Public and Government Relations PT BYD Motor Indonesia, Luther T. Panjaitan saat menanggapi rencana pemerintah terkait pengembangan ekosistem kendaraan listrik.

img_title Bisnis SPKLU Makin Ramai, Ultra Fast 120 kW Ada di Pulogadung

Luther mengatakan, hingga saat ini BYD belum bisa memberikan tanggapan resmi terkait wacana insentif lebih besar untuk kendaraan listrik berbasis baterai nikel karena belum ada keputusan resmi dari pemerintah.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Namun demikian, ia meyakini tujuan utama pemerintah tetap sama, yakni mempercepat transisi energi nasional dan mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.

img_title Terpopuler: Persaingan Mobil China, BYD Salip Honda, hingga Rahasia Motor MotoGP Miring Ekstrem

“Saya belum bisa memberi tanggapan karena belum ada informasi resmi terkait hal tersebut. Tapi saya percaya tentunya intensi dari pemerintah untuk kita bisa sesegera mungkin mendukung transisi energi, mengurangi subsidi bahan bakar,” ujar Luther di Jakarta, Selasa 12 Mei 2026.

Menurut dia, situasi global saat ini membuat ketergantungan terhadap energi fosil menjadi semakin kompleks. Karena itu, kendaraan listrik dianggap sebagai salah satu solusi untuk mendukung ketahanan energi jangka panjang.

img_title Persaingan Mobil China Makin Brutal, Ada yang Laris dan Ada yang Ngenes

“Apalagi dengan uncertainty dan situasi geopolitik sekarang menjadi semakin kompleks untuk tetap bergantung pada energi fosil,” katanya.

Ia menjelaskan, BYD melihat seluruh teknologi baterai kendaraan listrik memiliki tujuan yang sama dalam mendukung transisi energi. Baik baterai berbasis nikel maupun lithium ferro phosphate (LFP), keduanya dinilai sama-sama berkontribusi terhadap pengembangan kendaraan elektrifikasi.

“Walaupun nikel, walaupun LFP itu dua-duanya sama-sama mendukung niat baik pemerintah tersebut,” ujar Luther.

Karena itu, BYD menyerahkan sepenuhnya keputusan terkait arah kebijakan insentif kepada pemerintah. Perusahaan juga belum berencana mengubah strategi teknologi baterainya meski nantinya ada kemungkinan insentif lebih besar diberikan kepada baterai berbasis nikel.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Strategi BYD itu strategi jangka panjang. Kami melihat policy itu adalah salah satu dinamika market,” katanya.

Menurut dia, kebijakan pemerintah memang memiliki peran besar dalam mempercepat pertumbuhan kendaraan listrik. Ia menyebut dukungan regulasi menjadi salah satu faktor utama meningkatnya penjualan kendaraan elektrifikasi di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut