Mazda Blak-blakan Soal Nasib MX-30 di Indonesia, Ternyata Begini

VIVA Otomotif: Mazda MX-30 di pameran GIIAS 2023
Sumber :
  • VIVA/Yunisa Herawati

Jakarta, VIVA – Mobil listrik murni Mazda, MX-30, memang tidak terlalu terdengar gaungnya di Indonesia. Bahkan, kendaraan tersebut juga terbilang jarang terlihat mengaspal di jalan raya.

img_title Tak Banyak yang Tahu, Mobil-mobil Baru Ini Masih Pakai Penggerak Roda Belakang

Hal itu bukan tanpa alasan. PT Eurokars Motor Indonesia (EMI) selaku agen pemegang merek Mazda mengakui penjualan MX-30 memang sangat terbatas sejak pertama kali dipasarkan di Tanah Air.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Menjawab pertanyaan mengenai performa penjualan MX-30, Chief Operating Officer PT Eurokars Motor Indonesia, Ricky Thio, mengungkapkan bahwa Mazda sejak awal memang hanya memasukkan unit dalam jumlah sedikit.

img_title Mazda Bakal Rombak Besar 4 SUV Andalannya

"Waktu itu kami masukkan mungkin sekitar 20 unit. Memang hanya itu saja," ujarnya, dikutip VIVA Otomotif Kamis 2 Juli 2026.

Menurutnya, saat MX-30 diluncurkan, kondisi pasar kendaraan listrik di Indonesia masih belum ideal. Harga mobil listrik masih relatif tinggi, sementara teknologi baterainya saat itu belum mampu menawarkan jarak tempuh yang panjang.

img_title Terpopuler: SUV Mazda Bisa Menyalip Sendiri, Pelat Cantik Terancam Diblokir, hingga Aturan Lajur Cepat

"Pada waktu kami masukkan mobil itu, mungkin belum terlalu cocok untuk Indonesia karena harganya mahal, baterainya juga masih punya range yang terbatas, sekitar 200 kilometer," katanya.

Sebagai informasi, Mazda MX-30 merupakan mobil listrik pertama Mazda yang dipasarkan secara resmi di Indonesia. Mobil bergaya crossover tersebut mengusung baterai berkapasitas sekitar 35,5 kWh dengan jarak tempuh yang memang lebih pendek dibanding sebagian besar mobil listrik baru yang beredar saat ini.

Meski demikian, Ricky menegaskan strategi elektrifikasi Mazda tidak bisa hanya melihat kebutuhan pasar Indonesia. Sebagai merek global, Mazda harus mempertimbangkan karakter pasar di berbagai negara.

Ia mencontohkan, adopsi kendaraan listrik murni atau Battery Electric Vehicle (BEV) di setiap negara tidak sama. Amerika Serikat, misalnya, memiliki kebutuhan dan kondisi pasar yang berbeda dengan Indonesia.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Mazda bikin mobil bukan hanya untuk Indonesia. Kalau melihat market di Amerika Serikat, lingkungannya juga berbeda dengan Indonesia," tuturnya.

Di sisi lain, pabrikan asal Jepang tersebut juga menyadari bahwa tren elektrifikasi kini berkembang semakin beragam. Jika sebelumnya fokus pada BEV, kini pasar mulai diramaikan teknologi hybrid, plug-in hybrid (PHEV), hingga range extender electric vehicle (EREV) yang banyak dikembangkan produsen asal China.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut