5 Perubahan yang Bakal Terasa Pasca GIIAS 2026
- Gaikindo
Keempat, persoalan impor mobil listrik akan semakin mendapat perhatian. Pertumbuhan BEV di Indonesia masih cukup banyak dipenuhi kendaraan impor utuh atau Completely Built Up (CBU).
Materi yang dipaparkan di GIIAS menunjukkan porsi penjualan BEV CBU meningkat dari 4 persen pada 2022 menjadi 64 persen pada Januari-Mei 2025. Sebaliknya, sebagian besar kendaraan ICEV dan HEV sudah diproduksi melalui skema CKD, IKD atau produksi lokal.Â
Kondisi ini menimbulkan tantangan bagi industri nasional. Analisis yang dipaparkan dalam seminar menunjukkan pergeseran permintaan menuju BEV yang masih dipenuhi kendaraan CBU berpotensi membuat output industri otomotif turun sekitar 0,36 persen hingga 6,19 persen.Â
Kelima, produksi lokal akan semakin penting ketika pasar mulai pulih. Pertumbuhan penjualan kendaraan dan meningkatnya jumlah model baru perlu diikuti peningkatan investasi, produksi dalam negeri, industri komponen, serta ekspor agar manfaat pertumbuhan pasar tidak hanya berhenti di sisi penjualan.
Hal ini menjadi semakin penting karena pasar mobil Indonesia sebenarnya belum sepenuhnya kembali ke level 1 juta unit per tahun. Dalam paparan Riyanto, salah satu persoalan yang masih dihadapi adalah daya beli masyarakat dan middle class squeeze, sementara pertumbuhan BEV sejauh ini lebih banyak menggeser pasar ICEV ketimbang memperbesar ukuran pasar secara keseluruhan.