Buntut Polemik Ioniq 5, Hyundai Evaluasi Standar Pelayanan
- Tangkapan Layar Instagram/@makanlurrr
Jakarta, VIVA – Polemik yang melibatkan konsumen Hyundai Ioniq 5 dan dealer Fatmawati menjadi bahan evaluasi bagi PT Hyundai Motors Indonesia atau HMID. Perhatian perusahaan tak hanya tertuju pada kemampuan sales menjelaskan produk, tetapi juga cara jaringan dealer menangani konsumen yang datang membawa keluhan.
Chief Operating Officer PT Hyundai Motors Indonesia, Fransiscus Soerjopranoto, mengatakan persoalan tersebut menjadi pemicu bagi perusahaan dan jaringan dealer untuk kembali melihat standar pelayanan kepada konsumen. Evaluasi itu disebut tidak hanya berlaku untuk dealer yang terlibat dalam polemik, tetapi juga seluruh jaringan Hyundai di Indonesia.
Menurut dia, pelayanan kepada konsumen memang memiliki standar yang sudah ditetapkan. Namun, pelaksanaannya di lapangan bisa menghadapi situasi yang berbeda, terutama ketika konsumen datang dalam kondisi kecewa atau sedang mengajukan komplain.
“Kalau standar apa pun itu bentuknya, terus termasuk dengan policy atau kebijakan yang dibuat, itu pasti setiap perusahaan memiliki. Tapi dalam menjalankannya, kan kita bertemu dengan manusia,” ujarnya, dikutip VIVA Otomotif Sabtu 22 Agustus 2026.
Ia menilai faktor manusia dapat menimbulkan variasi dalam pelaksanaan standar pelayanan. Karena itu, HMID membuka kemungkinan melakukan berbagai langkah perbaikan, mulai dari penyegaran kembali standar yang sudah ada hingga pengembangan kemampuan tenaga penjualan dan petugas yang berhadapan langsung dengan konsumen.
Pria yang akrab disapa Frans itu juga membedakan dua hal yang menjadi perhatian Hyundai. Pertama adalah kemampuan sales atau tenaga penjualan dalam menjelaskan produk kepada calon konsumen, sementara yang kedua adalah kualitas pelayanan yang diberikan kepada konsumen.
“Kami punya standar pelayanan ke konsumen. Dua hal yang terpenting, yaitu bagaimana menjelaskan produk secara baik ke konsumen, tentunya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dari pelanggan. Yang kedua, tentunya adalah pelayanan yang diberikan oleh si sales atau frontliner kita kepada konsumen,” katanya.
Bagi HMID, polemik yang muncul justru menjadi bahan untuk melakukan refleksi terhadap sistem yang selama ini dijalankan. Fransiscus menyebut perusahaan tidak ingin melihat persoalan tersebut hanya sebagai masalah di satu titik, melainkan sebagai pemicu untuk melakukan perbaikan yang lebih luas.