Bos TVS Bilang EV Bukan Dewa Penyelamat Bumi
- TVS
India, VIVA -Â Peralihan kendaraan berbahan bakar bensin ke mobil dan motor listrik terus didorong sebagai salah satu cara mengurangi emisi. Namun, menurut Chairman Emeritus TVS Motor, Venu Srinivasan, kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) tidak seharusnya dianggap sebagai satu-satunya solusi.
Srinivasan menilai industri otomotif perlu menerapkan pendekatan yang lebih terbuka terhadap berbagai teknologi kendaraan. Menurutnya, dampak terhadap lingkungan, kualitas udara, serta kebutuhan konsumen harus menjadi pertimbangan utama.
"Saya selalu percaya kita harus netral terhadap teknologi dan melihat dampak bersihnya bagi negara dalam hal polusi, kualitas dan lingkungan. Jadi, EV bukan satu-satunya solusi," ujar Srinivasan di sela-sela IFQM Symposium 2026, seperti dikutip VIVA dari Economic Times, Selasa (6/10/2026)
Pernyataan tersebut muncul ketika industri otomotif India tengah mengalami perkembangan pesat pada kendaraan listrik. Adopsi EV terutama terlihat pada kendaraan roda dua dan roda tiga.
Meski begitu, Srinivasan menilai pertumbuhan kendaraan listrik sebaiknya berlangsung secara organik. Artinya, konsumen tetap diberikan kesempatan untuk menentukan teknologi kendaraan yang sesuai dengan kebutuhan mereka.
Menurut dia, pendekatan teknologi yang netral memungkinkan industri mempertimbangkan berbagai pilihan untuk menekan emisi, bukan hanya kendaraan listrik berbasis baterai.
"EV harus dibiarkan berkembang secara organik, dengan pilihan konsumen memainkan peran penting," katanya.
Salah satu alternatif yang turut disorot Srinivasan adalah penggunaan bahan bakar dengan campuran etanol. Menurutnya, kebijakan pencampuran etanol dengan bensin dapat membantu India mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar.
Ia menilai kekhawatiran mengenai penurunan performa kendaraan akibat campuran etanol tidak perlu dibesar-besarkan. Dampaknya terhadap performa kendaraan, menurut Srinivasan, sejauh ini relatif kecil.
"Penurunan performanya sangat kecil. Saya kira hal itu tidak seharusnya menjadi penghalang. Bagaimanapun, seluruh Brasil menggunakan etanol," ujarnya.
Meski demikian, ia melihat konsumen mungkin membutuhkan pilihan berbeda apabila kadar campuran etanol semakin tinggi. Salah satu alasannya berkaitan dengan material kendaraan yang dapat memiliki tingkat kompatibilitas berbeda terhadap kandungan etanol.
Srinivasan juga mengatakan kemungkinan adanya sedikit penurunan konsumsi bahan bakar akibat penggunaan etanol seharusnya dilihat dalam konteks yang lebih luas. India perlu mempertimbangkan manfaat pengurangan impor bahan bakar sekaligus dampak lingkungannya.