Indo Barometer: Dinasti Politik Bisa Diterima, Belum Pasti Dipilih

Ilustrasi: Warga Memberikan Suara Dalam Pemilu.
Ilustrasi: Warga Memberikan Suara Dalam Pemilu.
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi

“Alasan 4 terbesar karena setiap WNI punya hak yang sama 26,1 persen, ingin ada perubahan 8,9 persen, pintar atau intelektual 8,6 persen dan putra daerah 8,3 persen,” jelasnya.

Sama halnya di Kota Tangerang Selatan. Siti Nur Azizah, Rahayu Saraswati dan Pilar Saga Ikhsan yang maju, sebagian besar masyarakat mengaku bisa menerima para calon tersebut. Namun meski koresponden bisa menerima, tapi tingkat keterpilihan tiap-tiap daerah tersebut berbeda-beda. Seperti Gibran yang disebut bisa melanggeng dengan mudah, dan Bobby harus lebih kerja keras lagi.

“Sebaliknya, di Tangerang Selatan, yang berpeluang besar menang justru dinasti lokal mampu menumbangkan dinasti nasional yang diwakili oleh pasangan calon Benyamin Davnie – Pilar Saga Ikhsan,” ungkapnya.

Maka dari itu, Qodari mengatakan, meski publik bisa menerima dinasti politik tapi tidak berbanding lurus dengan tingkat keterpilihan. Sebab dalam pemilihan yang dilakukan langsung, masyarakat lah yang menjadi penentunya.

“Diperlukan suatu ikhtiar agar masyarakat mengenal dan yakin dengan kualitas kepribadian dan kemampuan seorang calon. Gagal membangun tingkat pengenalan dan persepsi kualitas yang baik akan berujung pada kegagalan politik,” jelasnya.

Teknik pengumpulan data dalam survei ini adalah wawancara tatap muka responden dengan menggunakan kuesioner. Responden setiap kota 400 orang, dengan margin of error lebih kurang 4,9 persen, pada tingkat kepercayaan 95 persen. Adapun metode penarikan sampel yang digunakan adalah multistage random sampling. (ase)