Depok Disebut Kota Intoleran, Ini Cara 2 Calon Wali Kota Mengubahnya

Debat perdana calon wali kota dan wakil wali kota Depok 2020. (Foto ilustrasi)
Debat perdana calon wali kota dan wakil wali kota Depok 2020. (Foto ilustrasi)
Sumber :
  • VIVA/Zahrul Darmawan

VIVA – Selain persoalan infrastruktur, ekonomi, pendidikan dan kesehatan, hal lain yang tak kalah penting menjadi sorotan di Kota Depok adalah tentang toleransi. Berdasarkan data yang diungkap panelis, Depok adalah salah satu kota yang cukup bermasalah terkait poin tersebut.

“Depok ini masuk dalam lima kategori kota yang intoleran. Ke depannya kami, Pradi Supriatna dan Afifah akan membuat kota ini menjadi kota yang toleran, kota untuk kita semua,” kata paslon nomor urut satu, Afifah Alia, dalam debat putaran ketiga Pilwakot Depok yang berlangsung pada Jumat malam 4 Desember 2020.

Calon Wakil Wali Kota Depok,pendamping Pradi itu berjanji, jika terpilih, pihaknya akan membuat taman-taman sehingga ada interaksi antar umat di ruang terbuka, ruang publik.

“Kami juga akan membangun pusat kebudayaan, kami akan membangun ruang-ruang olahraga karena kami yakin bahwa kebudayaan dan olahraga akan menyatukan, tidak membedakan mana agamamu, apa agamamu,” ujarnya

Afifah menegaskan, bersama Pradi, dia akan membuat Depok sebagai kota yang nyaman, sehingga tidak ada lagi perbedaan. “Kami akan bersama-sama membangun kota ini, membangun toleransi di Kota Depok yang kami cintai,” ujarnya.

Baca juga: KPK Ungkap Fakta-fakta Korupsi Pengadaan Pesawat dan Mesin Garuda

Tak terima dengan tudingan tersebut, calon Wali Kota Depok dari kubu Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Mohammad Idris, membantahnya. “Kami punya data dari lembaga dan diakui pada tahun 2019 dan ini cukup baik kerukunan umat beragama. Jangan sampai ini diabaikan, kalau kita abaikan berarti melakukan delegitimasi terhadap lembaga survei yang memang diakui,” tegasnya