Perilaku Aneh Ngidam, Antara Medis dan Sugesti

Ilustrasi ibu hamil.
Sumber :
  • Stocksnap

VIVA – Wanita hamil terkadang memiliki perilaku aneh. Apalagi kalau kaitannya dengan ngidam. Seorang wanita asal Manchester Inggris, Rebecca Adimora punya kebiasaan ngidam yang di luar kebiasaan. Bukan mangga muda, atau rujak, wanita ini justru ketagihan makan kapur tulis.

Keanehan Rebecca ini bukan pertamakalinya. Pada kehamilan anak pertamanya, Rebecca punya kebiasaan ngidam yang tak kalah unik, yaitu ‘ngemil’ tisu toilet.

Rebecca menjelaskan, awal dirinya mulai ketagihan kapur tulis. Keinginan itu tiba-tiba muncul setelah mengalami morning sickness di usia kehamilan 16 minggu dan melihat kapur tulis berwarna milik putrinya. 

Setelah itu dia mulai membeli sekotak kapur tulis putih, dan mulai menikmatinya dua batang kapur tulis setiap hari sambil menikmati video yang memperlihatkan orang tengah mengkonsumsi kapur tulis. 

"Sekitar usia kehamilan enam bulan, aku mulai menikmati 10 batang tiap hari, dan tidak ada yang bisa aku lakukan untuk membatasi keinginanku. Aku hanya menyukai suara renyah dan rasa seperti pasta yang ada di dalam mulutku," kata Rebecca dilansir Daily Mail. 

"Sensasinya kering dan mudah hancur dan kapurnya akan menempel di dinding mulut, mirip seperti selai kacang. Jika aku tidak menggigit selama beberapa jam aku jadi pening," ujarnya menjelaskan. 

Sempat khawatir dengan kondisi bayinya, terkadang Rebecca tak menelan kapur tapi hanya mengunyah kemudian memuntahkannya.

Tak hanya Rebbeca, seorang wanita asal Amerika Serikat bernama Hannah juga tak kalah unik, pada usia kandungannya yang ke-30 minggu, dirinya mengaku sangat gemar makan pasir basah.

Keanehannya itu diakuinya lewat video yang ia unggah ke akun youtube. Hannah mengaku melihat pasir basah seperti melihat semangkuk es krim cokelat. 

Meski mengaku mampu menghabiskan satu mangkuk kecil pasir basah, namun Hannah berusaha hanya mengonsumsinya sedikit.

"Saya melihatnya seperti semangkuk es krim. Saya melihatnya pertama kali ketika suami saya membawa tiga kantung pasir. langsung sja saya sendok dan cicipi begitu saja."

Apa yang dialami Rebbeca dan Hannah bukanlah hal yang baru pertamakali kita dengar. Wanita hamil sangat identik dengan yang namanya ngidam. Tak cuma makanan, ibu hamil juga mengidamkan mengonsumsi busa, kapas hingga bedak dan bukan jenis makanan. Keinginan makan-makanan aneh ini bisa dikategorikan sebagai masalah gangguan makan atau pica.

Web MD menyebut bahwa Pica adalah gangguan makan yang menyebabkan penderitanya memiliki keinginan untuk terus menerus mengonsumsi ‘kotoran’ atau benda-benda yang tak memiliki nilai gizi bahkan tak layak makan seperti kapur, busa, sabun, pasir, cat kering, dan lain-lain.

Ngidam bukan berarti pica

Pica adalah gangguan makan. Sedangkan wanita hamil yang ngidam belum tentu mengalami pica.

Untuk mengenali pica saat hamil, bisa dicermati dari kebiasaan makan dan apa saja yang dikonsumsinya termasuk saat mengalami ngidam. Di lain sisi, ngidam bukan dikategorikan sebagai kondisi medis melainkan sebuah faktor budaya dan kebiasaan.

"Ngidam itu dipengaruhi oleh dua hal yaitu psikis dan hormon di tubuh. Yang paling sering karena adanya pelepasan faktor endorfin yang memicu sisi psikis wanita hamil, untuk menginginkan makanan tertentu," ujar spesialis kandungan, dr. Damar Prasmusinto, SpOG (K), kepada VIVA di Kuningan, Jakarta.

Menurutnya Hormon endorfin inilah yang kemudian mencetuskan timbulnya peptida opioid endokrin (poe), untuk akhirnya memicu rasa ketagihan pada makanan tertentu. 

Selain ketagihan makanan, wanita hamil juga cenderung mengalami 3 hal yang mudah dikenali.

1. Banyak mau

Biasanya saat hamil, kemauan ibu hamil cenderung semakin banyak. Faktanya, hal itu bukan mitos. Kondisi itu dipicu oleh adanya ekspektasi yang begitu tinggi, serta keinginan yang terbaik untuk janin sehingga membuat keinginan ngidam semakin beragam.

"Ibu hamil banyak maunya saat ngidam, bahkan biasanya lebih beragam keinginannya. Pengaruh masyarakat dan kebudayaan juga biasanya," jelasnya.

2. Mood swing

Mitosnya, ngidam memicu perubahan emosi yang begitu cepat pada ibu hamil. Fakta yang ada, mood swing bukan dipengaruhi oleh ngidam, melainkan oleh perubahan hormon yang ada. Selain itu, perubahan image tubuh juga memicu perasaan marah terus menerus pada ibu.

"Ada perubahan bentuk tubuh karena hamil, akhirnya membuat ibu jadi merasa khawatir dengan imej tubuhnya dan membuat mood berubah-ubah," ujarnya.

3. Serba bergantung

Waspada, Bulimia Terjadi karena Obsesi Ingin Kurus

Saat ngidam, seringkali membuat ibu hamil lebih bergantung pada suami. Kenyataannya, hal itu dipengaruhi oleh karakteristik pribadi seseorang.

"Kalau orangnya memang cenderung depending, biasanya ngidam lebih bergantung sama suami. Tapi kalau yang karakteristiknya tidak terlalu bergantung, ngidamnya lebih santai," kata dia.

Penderita Celiac Dipastikan Mengidap Anoreksia, Benarkah?

Lebih lanjut ia juga mengungkapkan untuk kasus ngidam yang dibarengi kondisi keinginan makan 'yang aneh-aneh' justru patut di waspadai sebagai gangguan makan yang lebih serius, maka sebaiknya perlu penanganan lebih lanjut agar tidak berdampak pada janin.

“Gangguan makan dapat memengaruhi janin selain menyebabkan malnutrisi karena tidak ada gizinya. Dorongan untuk konsumsi benda seperti plastik, cat, kapur pasti memiliki sifat toksik. Hal ini bisa sangat berbahaya bagi ibu dan janinnya.”

Kenali Kepribadian yang Rentan Alami Gangguan Makan

Ilustrasi wanita hamil.

Bagaimana mendiagnosis penderita gangguan makan pica?

Tak hanya ibu hamil, pica ternyata juga bisa terjadi pada anak-anak. Web MD menyebut bahwa gangguan ini juga bisa terjadi ketika mereka kekurangan kasih sayang dan perhatian dan terkait masalah gizi.

Banyaknya penyebab pica bisa terjadi karena faktor lingkungan, nutrisi, sosioekonomi, fisiologi, budaya, dan psikiatri. 

Sebelum membuat diagnosis, dokter akan melakukan serangkaian tes untuk mengetahui adanya gangguan lain, seperti keterbelakangan mental, cacat perkembangan, atau gangguan obsesif-kompulsif sebagai penyebab perilaku makan yang aneh. 

Jika telah positif pica, selanjutnya dilakukan lagi rangkaian tes untuk mendeteksi akibat yang ditimbulkan misalnya anemia, penyumbatan di usus, atau toksisitas potensial dari zat yang tertelan. Dokter juga mungkin menguji kemungkinan infeksi yang disebabkan oleh makan item yang terkontaminasi bakteri atau organisme lainnya. Jika gejala hadir, dokter akan memulai evaluasi dengan melakukan riwayat kesehatan lengkap dan pemeriksaan fisik. 

Pica budaya kuno yang ditemukan di banyak kultur

Gangguan makan 'pica' ternyata sudah ditemukan sejak ribuan tahun lalu. Washingtonpost menulis bahwa pica telah ada di catatan medis kuno sejak 1563. 

Namun sebutannya bukan pica. Di selatan Amerika Serikat, pada era 80-an, orang menyebutnya geophagia. Biasanya kondisi ini dialami kaum budak. 

Geophagia sama dengan pica, di mana orang yang mengidapnya memakan tanah liat. Sejak abad 16 hingga abad 20, pica lebih dikenal sebagai gejala kelainan lain bukan kelainan spesifik. 

Bahkan hingga kini, pica diklasifikasikan sebagai perilaku normatif di beberapa kebudayaan sebagai bagian dari keyakinan magis, metode penyembuhan, dan seremoni keagamaan.

Peneliti sekaligus pekerja sosial, Kevin Grisby mempelajari bahwa wanita 'kulit hitam' yang melakukan Geophagia di Georgia. Berdasarkan penelitian tersebut ia mengambil kesimpulan bahwa pica sama kunonya dengan ras manusia dan dipraktikkan oleh budaya di seluruh dunia dan sering digunakan sebagai obat tradisional untuk mengidam dan mengurangi efek samping dari kehamilan. 

Dari Australia ke Afrika, Timur Tengah sampai Mississippi, para wanita meyakini bahwa mineral yang ditemukan di tanah dapat meningkatkan kesuburan, melengkapi makanan mereka dan membantu mengatasi mual pada trimester pertama.

Selain itu di beberapa tempat, mengonsumsi kotoran tertentu pada wanita hamil justru mampu melindungi pencernaan dari racun, parasit dan bakteri pathogen.

Ampo, makanan yang terbuat dari tanah

Pica juga diyakini memiliki sisi terapi. Orang-orang Yunani kuno memakannya untuk melawan berbagai penyakit. 

Suku Nigeria juga pernah tercatat melakukan perjalanan jauh ke daerah khusus di dekat danau Chad untuk mendapatkan 'kanwa', jenis tanah tertentu yang mereka konsumsi dan juga memberi makan ternak mereka. Dalam banyak budaya lain diyakini bahwa pica akan memperbaiki kekurangan mineral. 

Pada tahun 1997, ilmuwan Kanada menganalisis tanah di tiga wilayah di mana geophagia lazim dilakukan. Pertama di North Carolina, yang lainnya ada di China dan Zimbabwe. Hasilnya, mereka menemukan bahwa tanah di tempat-tempat ini kaya akan yodium, zat besi, kalsium, potassium dan kaolinite yang bertindak sebagai pencegah diare atau antidiarrheal yang manjur.

Geophagia juga dilakukan dalam kondisi religius. Di New Mexico, misalnya, lebih dari 300.000 orang mengunjungi El Santuario de Chimayo setiap tahun. Di sana ada kekuatan penyembuh yang dipercayai berasal dari tanah. 

Di tempat suci umat Katolik yang disebut 'Lourdes of America' ini, para pengunjung yang sengaja datang untuk berdoa akan disuapi sesendok tanah yang diambil dari lubang tempat sebuah salib kecil yang pernah dikubur pada 1810 silam.


 

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya