Rupiah Terpuruk dalam Jeratan Pusaran Global
- VIVA.co.id/Muhamad Solihin
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter Bank Indonesia (BI) Doddy Zulverdi menegaskan, setidaknya ada empat faktor yang memperkuat keyakinan tersebut. Pertama adalah pertumbuhan ekonomi Indonesia yang masih tinggi di kuartal IV 2017 mencapai 5,19 persen.Â
Faktor kedua, tambahnya, adalah faktor inflasi yang masih cenderung terkendali. Kemudian ketiga adalah neraca perdagangan atau transaksi berjalan Indonesia yang meski mengalami defisit 1,7 persen pada 2017, namun masih di bawah ambang batas BI, yakni sekitar 3 persen.Â
Baca juga: Soto Ayam Hingga Rokok Dongkrak Inflasi Februari
"Cadangan devisa RI sekitar US$103 miliar per akhir Desember dan Januari naik lagi (US$131,98 miliar). Artinya amunisi BI untuk melakukan stabilisasi besar," katanya.
Faktor terakhir menurutnya adalah tingginya kepercayaan pasar terhadap ekonomi Indonesia. Hal ini tercermin dari naiknya rating dari Japan Credit Rating Agency (JCR) yang menaikkan menjadi BBB polos.Â
"Jadi artinya, efek ke depan harusnya besar dari peningkatan rating kita tersebut terhadap ketertarikan pasar," paparnya.
RI tak sendiri
Dolar AS yang mencapai level tertingginya dalam eman minggu juga melemahkan sekeranjang mata uang di dunia. Penguatan itu juga berimbas pada melemahnya mata uang di negara-negara maju.Â
Euro tergelincir ke level terendahnya dalam tujuh minggu terakhir pada perdagangan Kamis, ke level US$1.216 per euro. Angka tersebut tercatat terlemah sejak 12 Januari.Â
Data BI menurut Doddy juga mencatat, mata uang korona di Swedia melemah 4,8 persen, dolar Kanada keok lebih dari 4 persen, dan dolar Australia terjelembab sekitar 3,9 persen. Kemudian, poundsterling Inggris melemah hampir 3 persen, bahkan Norwegia yang dikenal sangat kaya juga kena dampak dan pelemahan hampir 2,5 persen
“Jadi seluruh mata uang dunia termasuk yang kita kenal mata uang negara kuat ikut melemah," tegasnya.Â
Â