Siap Siaga Tsunami Besar
- REUTERS
"Tidak ada yang tahu pasti masalah gempa, termasuk juga skalanya, bisa besar sekali, bisa juga tidak terjadi seperti itu,” katanya.
Unggul membandingkan Jepang yang dikenal sebagai negara yang siap secara teknologi untuk mengantisipasi bencana gempa dan tsunami saja, masih kebobolan. Jepang menunggu gempa terjadi di sekitar Tokyo, lalu setelah itu gempa di Sendai. Tapi apa yang terjadi, Gempa Tokyo yang ditunggu tidak datang, gempa malah terjadi di Sendai.
Negeri Matahari Terbit itu memang menyiapkan dinding tinggi lebih dari 8 meter, namun tsunami yang terjadi nyatanya bisa sampai 15 meter. Maka dinding di sepanjang Pantai Sendai bisa dilalui gelombang tsunami tersebut.
"Ini merupakan salah satu contoh, bahwa gempa paling sulit sekali diprediksi kapan terjadinya dan berapa besar skalanya,” ujar Unggul.
![]()
Senada dengan Unggul, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengimbau masyarakat tidak panik dan menyikapi berlebihan dengan potensi dan modeling tsunami besar tersebut.
Dia menuliskan di akun Twitternya, dalam sejarah terbentuknya kepulauan Indonesia, gempa dan tsunami pernah terjadi karena bergeraknya lempeng teknonik.
Sutopo menuturkan, waspada potensi tsunami bukan hanya fokus pada Jawa bagian barat. Sebab potensi bencana itu juga dapat terjadi di daerah lain yang berada pada zona subduksi.
"Tsunami tak dapat diprediksi pasti. Yang penting kita perlu meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi bencana. Wilayah Indonesia memang rawan gempa," katanya.
Apa yang harus dilakukan?
Mengingat potensi tsunami besar tersebut, Widjo berpandangan pemerintah perlu menjalankan program mitigasi atau pengurangan bencana tsunami.
Menurutnya perlu juga dilakukan peta risiko atau rute evakuasi, sistem peringatan dini atau tanggap darurat, sosialisasi dan pelatihan, agar bisa lebih siap menghadapi saat datangnya bencana tersebut.
Sedangkan Unggul juga meminta masyarakat untuk selalu waspada. Untuk pemangku kepentingan, Unggul meminta, agar memerhatikan aspek mitigasi di kawasan potensi bencana.
"Misalkan standar bangunan (para pengembang) di beberapa kota potensi gempa, harus diprediksi dengan ukuran gempa yang kira-kira sebesar apa potensinya. Saya juga berharap tidak muncul lagi berita yang sensasional sehingga menimbulkan kesalahpahaman dan kecemasan di masyarakat," kata dia.