Erdogan Menang dan Mimpi Rakyat yang Terbelah
- Kayhan Ozer/Presidential Palace/Handout via REUTERS
“Sesungguhnya pemenang Pemilu adalah semua rakyat, setiap orang dari 81 juta penduduk negara saya,” kata Tayyip Erdogan yang disambut sorakan oleh para pendukungnya saat berbicara di markas Partai AK di Ankara, Turki, sebagaimana dilansir laman BBC.
Tegang
Pemilu Turki tahun ini boleh dikatakan sebuah pesta demokrasi yang cenderung menegangkan bagi negara itu. Bagaimana tidak, sejak adanya percobaan kudeta tahun 2016 silam, Erdogan menetapkan negara dalam keadaan darurat hingga saat ini.
Tersebut nama Muharrem Ince yang merupakan rival terkuat Erdogan pada Pemilu kali ini yang diusung oleh Partai Rakyat Republik (CHP). Dikenal sebagai mantan Anggota Parlemen, Ince dahulu merupakan guru Fisika. Dengan jargon Turki yang bersatu, Ince cukup dijagokan oleh oposisi dan masyarakat yang tak menyukai kepemimpinan Erdogan.
Meski hasil Pemilu tak bisa ditolak, Ince hanya mendapatkan perolehan suara sekitar 31 persen dari 99 persen yang sudah dihitung oleh penyelenggara Pemilu setempat. Sementara sisa suara lainnya terbagi di antara calon lainnya.
“Kita akan merangkul semua orang,” kata Ince sebagaimana dicukil dari Telegraph saat melakukan 107 kampanye rally di 65 kota. Bahkan disebut, satu kampanye Ince bisa dihadiri ratusan ribu orang yang merindukan Erdogan turun dari kekuasaan.
Tak dinyana, masyarakat Turki memang bagai terbelah sejak upaya kudeta dua tahun lalu kandas. Sejurus, Erdogan dengan agresif menangkapi orang-orang dari berbagai kalangan dan menuding Fetullah Gulen sebagai dalang kudeta gagal.
Terakhir diketahui bahwa Erdogan sudah menahan lebih dari 107.000 orang yang berasal dari kalangan prajurit, polisi, guru, akademisi, jaksa dan praktisi hukum yang dituduh terlibat dalam kudeta. Sementara sekitar 50 ribu orang kini masih menunggu proses persidangan yang masih terbengkalai.
Tak hanya itu, Erdogan juga menurut laporan media independen yang digagas oleh sejumlah jurnalis berbasis di Turki juga menahan lebih dari 150 jurnalis. Atas kondisi itulah Erdogan dicap tak pro pada kebebasan pers dan demokrasi. Saat melakukan kunjungan ke London belum lama ini, Erdogan pernah ditanyai wartawan mengenai penahanan para pekerja media massa tersebut. Jawaban sang Presiden memang cukup mengejutkan.