Menanti Kejutan Pilkada Serentak
- ANTARA FOTO/Novrian Arbi
VIVA – Hari ini, 27 Juni 2018, hajatan besar politik di negeri ini digelar. Sebanyak 17 provinsi, 39 kota dan 115 kabupaten akan menyelenggarakan pemilihan kepala daerah (Pilkada) secara berbarengan.
Menurut data dari KPU pusat melalui infopemilu.kpu.go.id daftar pemilih tetap mencapai 152.058.452 orang, dengan jumlah TPS mencapai 387.566. KPU juga mendata, terdapat 520 calon pasangan yang bertarung, dengan rincian diikuti 55 pasangan pada pilkada provinsi, 344 pasangan pada pilkada bupati, dan 121 pasangan pada pilkada wali kota.
Komisi Pemilihan Umum (KPU) Pusat juga menyebutkan, pasangan calon tunggal dalam Pilkada kali ini jumlahnya mencapai 15 daerah, yaitu Deli Serdang, Padang Lawas Utara, Kota Prabumulih, Pasuruan, Lebak, Tangerang, Kota Tangerang, Tapin, Minahasa Tenggara, Bone, Enrekang, Mamasa, Mamberamo Tengah, Puncak, dan Jayawijaya.
Dana yang digelontorkan pemerintah untuk hajatan besar ini juga lumayan besar, yaitu sekitar Rp 15,95 triliun. Rinciannya adalah untuk Komisi Pemilihan Umum (KPU) Rp11,9 triliun, Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Rp3,6 triliun, dan untuk pengamanan Rp379 miliar.
Dari ratusan pemilihan kepala daerah tersebut, perhatian publik lebih tersedot pada perebutan kursi gubernur di empat provinsi besar yaitu Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Sumatera Utara. Empat provinsi dengan jumlah pemilih sangat besar ini dianggap sebagai representasi kemenangan bagi siapapun kandidat capres yang akan maju pada Pilpres 2019. Sebab, jumlah pemilih di empat wilayah tersebut jauh lebih banyak dibanding wilayah lain di Indonesia.
Pilkada 2018 yang digelar hari ini juga kerap dilihat sebagai penggalangan kekuatan juga pemetaan basis kemenangan oleh partai politik. Itu sebabnya, menjelang Pilkada 2018, partai politik saling menunggu satu sama lain, dan melakukan pendaftaran calonnya pada menit-menit terakhir.
Mengutip Direktur Eksekutif Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) Titi Anggraeni, parpol saling intip sebelum memutuskan siapa calon yang akan mereka usung, dan dengan partai mana mereka akan melakukan koalisi.
Menurut Titi, Pilkada 2018 akan menjadi uji mesin partai menuju 2019. "Kenapa 2018 saling intip, bahkan peta koalisi berubah, karena 2018 tidak bisa dilepaskan dari uji mesin partai menuju 2019. Dan partai mengonsentrasikan itu di pilkada," ujarnya beberapa waktu lalu kepada VIVA.
Partai politik, ujar Titi, membangun persepsi kemenangan pilkada ini sebagai kemenangan di 2019. Sehingga partai menjadi hati-hati dalam menentukan calon. "Pilgub menjadi fokus sebagai basis menuju 2019. Membuat partai sedemikian rupa belajar dan mengubah strategi," kata Titi menambahkan.
Diprediksi, peta penentuan dan persaingan menuju Pilpres 2019 akan semakin terbaca setelah hasil Pilkada 2018 ini selesai.
Empat Provinsi Utama
Pilkada serentak tahun ini terasa istimewa, karena tahun depan Indonesia akan menghadapi hajatan besar Pemilihan Umum. Pertarungan pemenang Pilkada jadi begitu penting, karena ada wilayah-wilayah yang disebut sebagai indikasi pemenangan Pemilu. Ada empat wilayah dengan tingkat pemilih yang tinggi, karenanya empat wilayah ini dikaitkan dengan Pemilihan Umum. Kemenangan di wilayah ini saat Pilkada 2018, dianggap sebagai indikasi raihan suara di Pemilu 2019.
Dikutip dari kpu.go.id, berdasarkan jumlah DPT hasil pleno Pilkada 2018, DPT tertinggi pertama terdapat di Provinsi Jawa Barat, dengan jumlah DPT 31.730.042 pemilih, yang terdiri atas 15.784.543 pemilih perempuan dan 15.945.499 pemilih laki-laki, dengan jumlah TPS 74.954. Wilayah tertinggi kedua adalah Provinsi Jawa Timur, dengan jumlah DPT 30.155.719 pemilih, dengan jumlah pemilih perempuan sebanyak 15.315.366 pemilih dan jumlah pemilih laki-laki 14.840.353, dengan jumlah TPS 67.644.
Lalu wilayah tertinggi ketiga adalah Provinsi Jawa Tengah, dengan jumlah DPT 27.068.500 pemilih. Dengan total pemilih perempuan sebanyak 13.589.496 pemilih, jumlah pemilih laki-laki 13.479.004, dan jumlah TPS 63.973. Provinsi dengan jumlah DPT tertinggi keempat adalah Provinsi Sumatera Utara, dengan total DPT 9.050.622 pemilih. Terdiri atas jumlah pemilih perempuan 4.566.639, jumlah pemilih laki-laki 4.483.983, dan jumlah TPS sebanyak 27.478.
Berdasarkan rilis KPU tersebut, maka Pilkada di empat provinsi di wilayah tersebut dianggap sangat menentukan. Berbagai lembaga survei merilis ketat persaingan antar Paslon di empat provinsi tersebut. Ada empat paslon di wilayah Jawa Barat yang bersaing untuk memenangkan Pilkada, yaitu Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul Ulum, Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi, Sudrajat-Ahmad Syaikhu, Tubagus Hasanudin-Anton Charliyan.
Dari berbagai lembaga survei yang merilis hasil penelitian mereka, mulai bulan April hingga Juni 2018, pasangan calon Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul Ulum (Rindu) perlahan bergerak naik menyalip pasangan Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi. Enam lembaga survey, yaitu Populi Center, Charta Politica, Indo Barometer, LSI Denny JA, Roda Tiga Konsultan, Poll Tracking Indonesia, dan SMRC sama-sama merilis hasil pasangan Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul Ulum sebagai pasangan dengan perolehan suara tertinggi diantara tiga pasangan lainnya.
Meski pasangan Rindu berada pada posisi pertama dalam survei yang dilakukan oleh enam lembaga tersebut, namun suara yang mereka dapatkan hanya selisih sedikit dengan pasangan Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi (2D). Selisih suara antara Rindu dan 2D dari enam lembaga tersebut berada pada kisaran dua persen hingga 11 persen.
Meski pasangan Rindu sudah memimpin, namun Peneliti SMRC Sirojudin Abbas mengatakan, Pilkada Jabar tetap bisa memberikan kejutan. Ia mengambil contoh Pilkada Jabar periode kemenangan Ahmad Heriawan. "Kejutan masih mungkin terjadi. Kita sudah melihat gejalanya dari merujuk pada Ahmad Heryawan yang tidak terlalu kuat tapi di akhir menang," ujarnya saat memberikan keterangan pers di kantornya kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Jumat 22 Juni 2018.
Pasangan Sudrajat memang tak tinggal diam. Mereka berupaya terus mendekati ulama untuk memperoleh dukungan. Bahkan, sinyal dukungan juga mereka dapatkan dari Ponpes Miftahul Huda, Tasikmalaya. Padahal, Pimpinan Ponpes Miftahul Huda Asep Maoshul adalah paman Uu Ruzhanul Ulum. Asep, yang juga Anggota DPR selama tiga periode ini yakin elektabilitas Sudrajat-Ahmad Syaikhu bisa tinggi dan memenangkan Pilgub Jawa Barat.
PKS sudah memenangkan figur Ahmad Heryawan dua periode meski secara survei Aher anjlok dibandingkan lawan beratnya. "Ketika kami analisa, walaupun jumlah kursi terbesar dimiliki pasangan lain, pasangan Asyik adalah yang paling mungkin bisa dipastikan menang," ujar Asep saat dikunjungi Cagub Sudrajat di Manonjaya, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, Minggu, 24 Februari 2018.
Berbeda dengan Jawa Barat yang memiliki empat paslon, Provinsi Jawa Tengah hanya memiliki dua paslon dalam kontestasi Pilkada 2018 ini, yaitu Ganjar Pranowo-Taj Yasin dan Sudirman Said-Ida Fauziah. Kemenangan Ganjar seolah terlihat nyata. Lima lembaga survey, yaitu Litbang Kompas, Charta Politica, Indo Barometer, SMRC, dan Roda Tiga Konsultan memaparkan kemenangan mutlak Ganjar atas Sudirman Said, sebab selisih suara antara dua kandidat ini terpaut sangat jauh hingga mencapai 50 persen.
Direktur Eksekutif Indo Barometer M. Qodari mengatakan, perjalanan Sudirman Said mengalahkan Ganjar Pranowo lumayan berat. "Dari simulasi dengan menggunakan contoh surat suara, pasangan Ganjar Pranowo-Taj Yasin sebesar 67,3 persen. Untuk elektabilitas, Ganjar juga unggul dengan angka sebesar 66,9 persen. Sedangkan elektabilitas Sudirman Said memperoleh 21,3 persen. Berat buat Sudirman Said melawan incumbent," ujar Qodari dalam paparan survei di Senayan, Jakarta, Rabu, 20 Juni 2018.
Di Jawa Timur, sebagai wilayah dengan DPT ketiga terbanyak se-Indonesia, persaingan antara Syaifullah Yusuf-Puti Soekarno dan Khofifah Indar Parawansa-Emil Dardak juga lumayan sengit. Empat lembaga survei, yaitu Populi Center, Charta Politica, SMRC, Roda Tiga Konsultan, dan Polltracking Indonesia menunjukkan angka kemenangan membayangi Khofifah-Emil Dardak. Namun selisihnya sangat tipis, hanya berada pada kisaran satu hingga delapan persen.
Direktur Eksekutif Poltracking Indonesia Hanta Yuda AR mengatakan, meski Gus Ipul pernah menjadi Wakil Gubernur Jawa Timur, namun elektabilitasnya tersisih oleh Khofifah. Gus Ipul juga mendapatkan dukungan penuh dari sejumlah kiai, termasuk dari kiai di Madura. Tapi warga Jawa Timur sepertinya kepincut pada sosok Khofifah yang sempat mencicip jabatan sebagai Menteri Sosial. Apalagi, Gus Ipul kerap dikaitkan dengan latar belakang pendidikan dan ijazahnya. Latar belakang pendidikan Khofifah-Emil Dardak menjadi jualan utama bagi pendukung pasangan tersebut.
"Bu Khofifah dan Emil Dardak itu dipersepsikan oleh publik itu relatif lebih kompeten jadi figur yang lebih cerdas dan berprestasi, itu ada datanya pernah kita rilis beberapa bulan yang lalu. Sehingga pemilih rasional itu juga mempertimbangkan menyasar itu ditambah tentu basis sosiologis," ucap Hanta dalam pemaparan di Hotel Sari Pacific, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Sabtu, 23 Juni 2018.
Sementara di Sumatera Utara hasil polling masih merata. Belum ada kandidat yang dianggap paling kuat untuk memenangkan Pilkada. Ada tiga pasangan Cagub-Cawagub untuk berkompetisi memperebutkan posisi nomor satu di Sumatera Utara, yaitu Edy Rahmayadi-Musa Rajeckshah, Djarot Saiful Hidayat-Sihar Sitorus, dan pasangan JR Saragih-Ance Selian. Lembaga survei Media Survei Nasional atau Median mengatakan, posisi pasangan Edy-Musa berada di peringkat pertama, pasangan Djarot-Sihar di peringkat kedua, dan JR Saragih-Ance di posisi terakhir. Namun selisih mereka sangat tipis.
Meski pernah sukses memimpin DKI Jakarta bersama Basuki Tjahaja Purnama, namun popularitas Djarot di Sumatera Utara tak serta merta terdongkrak. Pemilih di Sumatera Utara lebih banyak yang tertarik mengikuti Pilkada. Direktur eksekutif Lembaga Survei Stratak Indonesia, Octarina Soebardjo mengkhawatirkan hasil temuan lembaganya yang mengindikasikan kemungkinan rendahnya partisipasi pemilih di Sumatera Utara.
"Jika tidak dilakukan upaya sungguh-sungguh dari penyelenggara pemilu dan para pemangku kepentingan termasuk paslon peserta pilkada dan parpol pengusung pendukung, bisa jadi rendahnya partisipasi di Pilkada Sumut 2013 akan terulang," katanya. Menurutnya, salah satu penyebab rendahnya partisipasi di Pilkada Sumut 2013 lalu adalah para calon tidak memiliki daya tarik politik yang tinggi, sehingga gagal menyita perhatian masyarakat selama masa kampanye.
“Kalau tidak menarik, mana ada orang tertarik. Ibarat makan, orang sudah tidak selera. Jadi penyelenggara tidak bisa tidak, harus kreatif. Itu kalau mau partisipasi di Pilkada Sumut naik,” ujarnya.
Strategi Menang
Pilkada akan digelar hari ini. Seluruh paslon berharap bisa menjuarai kontestasi Pilkada. Sejumlah cara dilakukan agar di menit-menit terakhir, raupan suara bisa diraih. Bahkan mantan Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok mengajak Ahokers mendukung koleganya, Djarot Syaiful Hidayat. Djarot-Sihar yang diusung koalisi PDIP serta PPP masih terus bersaing ketat dengan paslon Edy Rahmayadi-Musa Rajeckshah untuk memenangkan pemilihan Gubernur Sumut.
Di Jawa Tengah, 1.000 advokat mendeklarasikan dukungan mereka pada pasangan Sudirman Said-Ida Fauziah. Mereka datang dari berbagai lembaga untuk mengawal perkara hukum saat dan setelah hari pencoblosan. Sunarto selaku inisiator gerakan mengungkapkan, jika dukungan penuh tersebut lantaran menginginkan Pilgub Jateng yang jujur dan adil. Ia menengarai bahwa Pilgub Jateng berpotensi kecurangan dan pelanggaran. "Kami fokus masalah hukum. Di mana hak-hak konstitusi warga harus ditegakkan. Jangan ada intimidasi atau intimidasi saat warga ingin berikan hak suaranya," kata Sunarto.
Sementara itu, Partai Keadilan Sosial tak bisa tinggal diam melihat paslon yang mereka dukung hanya berada di peringkat ketiga dari hasil penelitian berbagai lembaga survei. Salah satu langkah yang dilakukan PKS adalah melibatkan mantan Gubernur Jawa Barat Ahmad Heriawan sebagai mesin penggerak kader dan mendekat dengan masyarakat Jawa Barat. PKS yakin, sosok Aher masih memiliki magnet yang kuat untuk mengatrol suara Sudrajat-Ahmad Syaikhu.
“Kami siapkan Aher di masa-masa terakhir ini. Kunci kemenangan salah satu kuncinya di Pak Aher,” ujar politikus PKS sekaligus anggota DPRD Jabar Imam Budi Hartono. PKS yakin, tiga titik rawan di Jawa Barat yaitu Depok, Bandung,dan Bekasi akan mereka kuasai.
Sementara paslon dari Jawa Timur, Gus Ipul-Puti Guntur Soekarno dan Khofifah-Emil Dardak berhasil diajak untuk guyub dan saling berpelukan sebelum bertarung hari ini. Budayawan Emha Ainun Najib berhasil membuat kedua pasangan berada dalam satu panggung dalam acara doa bersama dan Deklarasi Pilkada Damai bersama tokoh lintas agama pada Selasa malam, 26 Juni 2018.
Kontestasi Pilkada 2018 yang terkait dengan Pilpres 2019 akan digelar hari ini. Ratusan juta mata warga dari Sabang sampai Merauke akan memperhatikan dan mengamati pergerakan angka hingga pengumuman kemenangan. Para pemenang pasti akan memberi warna khusus pada partai pendukungnya. Namun seluruh warga juga meletakkan harap, persaingan berjalan damai dan tanpa gesekan yang berpotensi memecah belah bangsa. Siapa pun pemenangnya, semoga mampu membawa negara ini pada kebaikan dan kemajuan bagi seluruh elemen, bukan hanya segilintir orang atau anggota partai pendukung. Semoga.(umi)