Tik Tok Kena Getok
- VIVA.co.id/Misrohatun Hasanah
Selain itu, hal yang patut dipertanyakan adalah kinerja dari Mesin Sensor Internet atau AIS. Doni mengatakan kalau ternyata masih 'minta' blokir ke pemilik platform, artinya, ia melanjutkan, AIS tak mampu bertindak seperti yang digadang-gadang selama ini.
"Tunggu sampai ramai baru bertindak. Kenapa? Karena mesin AIS Kominfo memang tidak bisa menjangkau sampai ke 'jeroan' platform," tuturnya.
Dengan demikian, Doni mengimbau kepada Kominfo supaya fokus membantu menormalkan kembali situs Komisi Pemilihan Umum Daerah.
"Mereka (KPU) lagi pusing karena diisengin situsnya. Apalagi, KPU pakai server yang Kominfo kenal. Jangan sebagai 'pemadam kebakaran'," tegas Doni.
Ia juga menyindir gerakan literasi digital yang digerakkan Kominfo, yang katanya, akan melibatkan banyak komunitas. "Kalau ujung-ujungnya blokir sama saja bicara bahasa kekuasaan. Artinya, literasi digital tidak efektif menghadirkan internet sehat," katanya.
![]()
Ada ‘kekosongan’
Sementara itu, Information Technology Security Specialist Vaksinkom, Alfons Tanujaya mengungkapkan, Kominfo harusnya mulai berbenah soal pemblokiran. Termasuk untuk mengawasi keefektifan pemblokiran yang dilakukan terhadap sejumlah aplikasi.
"Kominfo harusnya mengawasi apakah blokirnya efektif atau tidak. Kalau tidak efektif, ya, mereka harus cari di mana celahnya dan bagaimana menyempurnakannya," kata Alfons kepada VIVA.
Ia pun menyadari bahwa pasti ada celah di setiap pemblokiran. Tapi menurutnya harus disadari juga bahwa pihak-pihak terkait seperti internet service provider (ISP) juga menjalankannya sebaik apapun sehingga tidak ada akses ke aplikasi tersebut.
Alfons mendorong Kominfo dan juga pihak terkait perlu membuat solusi menyalurkan keinginan para penggunanya pasca-pemblokiran Tik Tok. "Pemerintah dan lainnya harus mendukung para user untuk berkarya," tutur dia.
Sebab, setiap kali suatu aplikasi diblokir, otomatis ada 'kekosongan' yang ditinggalkan. Alfons mengaku bersyukur kalau Kominfo atau lembaga terkait bisa memberikan aplikasi alternatif. "Itu akan sangat baik sekali," jelasnya.
Ia menambahkan, sudah seharusnya konten negatif yang meresahkan masyarakat seperti penghinaan agama, LGBT dan SARA, memang harus segera dibasmi. Jika Tik Tok mampu mengatasi semua masalah itu, mereka bisa berjuang dan meyakinkan Kominfo jika platform mereka 'bersih'," ujar Alfons.