Mobil Listrik dan Disrupsi Industri
- VIVA/Dian Tami
Berikutnynya, disrupsi industri otomotif>>>
Disrupsi industri otomotif
Aturan mengenai kendaraan listrik, sebenarnya sudah diproses sejak lama. Namun, hingga kini statusnya masih menunggu persetujuan dari beberapa pihak. Padahal, awalnya aturan sudah rampung pada awal tahun ini.
Kehadiran mobil listrik memang tidak bisa instan. Perlu banyak hitungan yang matang, agar nantinya tidak terjadi gejolak di berbagai sektor.
Pengamat otomotif dari Institut Teknologi Bandung, Yannes Martinus mengatakan, kehadiran mobil listrik bukan hanya memberi dampak untuk mengurangi emisi, tetapi juga berdampak pada sektor usaha otomotif.
"Kendaraan listrik akan mendisrupsi sistem industri otomotif yang ada sekarang ini," kata Yannes saat dihubungi VIVA beberapa waktu lalu.
Sebagai ilustrasi, kata Yannes, jika mesin mobil BBM (motor bakar) yang sederhana saja menggunakan sekitar 800 komponen, pada motor listrik hanya menggunakan tiga komponen besar, yakni baterai, dinamo, dan pengatur.
Disrupsi global yang terlalu cepat itu akan menggerus investasi ratusan triliun yang sudah dibenamkan banyak negara prinsipal otomotif di Indonesia dan berpotensi menghancurkan target return of investment (ROI) dan keuntungan yang telah dihitung sebelumnya.
![]()
"Hal ini, tentu sangat ditakuti oleh semua negara yang berinvestasi pada industri otomotif di Indonesia," kata dia.
Itu sebabnya, kendaraan yang dinilai ideal untuk dipasarkan saat ini di dalam negeri adalah model hibrida atau hybrid. Sebab, moel tersebut masih menggunakan mesin konvensional.
"Solusi paling praktis itu pakai PHEV (plug-in hybrid electric vehicle). Kalau untuk mobil listrik, infrastrukturnya belum siap," kata Presiden Direktur PT Mitsubishi Motors Krama Yudha Sales Indonesia (MMKSI), Kyoya Kondo di Jakarta.
Hal senada juga diungkapkan Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto. "Sama dengan bensinnya atau bahan bakarnya, untuk menghasilkan listrik. Penggerak dari kendaraan sudah elektrik, berbeda dengan hybrid, masih ada combustion engine,” tuturnya.
Saat ini, sudah ada tiga produsen mobil yang berkontribusi terhadap pengembangan mobil hibrida di Indonesia. BMW Group menyumbang alat pengisian baterai sebagai bahan studi, dan Mitsubishi Motors memberikan delapan unit Outlander PHEV, serta dua mobil listrik i-MiEV.