Menebak Pendamping Jokowi
- ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari
Isyarat elite PDIP figur pendamping Jokowi berasal dari profesional, eks Jenderal TNI/Polri, pimpinan parpol. Namun, hal ini juga masih dinamis dan belum bisa dipastikan.
"Yang pertama cawapres dari internal PDIP, kedua dari parpol lain, ketiga dari luar PDIP dan luar koalisi parpol pengusung. Artinya, profesional, agamawan, militer, polisi, dan sebagainya," kata Basarah di gedung DPR, Jakarta, Rabu, 11 Juli 2018.
![]()
Ilustrasi foto dukungan Jokowi-JK di Pilpres 2014
Potensi di Saat Akhir
Dinamisnya politik jelang pendaftaran pilpres diperkirakan akan sampai 10 Agustus 2018. Sebab, tanggal tersebut merupakan batas akhir pendaftaran koalisi partai untuk mengusung calon presiden dan wakil presiden ke Komisi Pemilihan Umum (KPU).
"Jangan-jangan Pak Jokowi juga akan mengambil momentum mengumumkan dan mendaftarkan diri pada 10 Agustus pukul 23.59 misalnya. Kita lihat nanti siapa yang dipilih Pak Jokowi pada waktu yang tepat," jelas Basarah.
PDIP sudah menyiapkan strategi agar koalisi pendukung Jokowi solid hingga tahapan Pilpres 2019 berlangsung. Sekretaris Jenderal DPP PDIP Hasto Krtistiyanto mengklaim pihaknya berpengalaman dalam menyolidkan koalisi. Hal ini merujuk Pilpres 2014 ketika Jokowi berpasangan dengan Jusuf Kalla.
Hasto mengibaratkan dinamika saat ini hampir sama dengan Pilpres 2014. Saat itu, menurut dia, banyak figur yang didorong menjadi cawapres Jokowi. Namun, akhirnya semua rela ketika JK yang menjadi pendamping pilihan Jokowi.
"Jadi, kita punya pengalaman panjang di situ. Itulah yang bakal menjadi bekal optimisme bahwa mereka yang sudah mendukung Jokowi akan selalu bersama-sama," tutur Hasto.
Utak-atik Nama
![]()
Foto: Jokowi dan Ketum PDIP di Istana Batu Tulis, Bogor.
Sebagai presiden petahana, figur pendamping Jokowi tentu menarik perhatian. Kemunculan nama-nama seperti Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Maruf Amin, Menteri Keuangan Sri Mulyani, hingga eks Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD dinilai bisa menggerus tokoh politik yang selama ini digadang-gadang juga masuk bursa cawapres Jokowi.
Pengamat politik sekaligus Direktur Eksekutif Kelompok Diskusi dan Kajian Opini Publik Indonesia (KedaiKOPI), Hendri Satrio menilai Jokowi membutuhkan pendamping yang seharusnya kuat dari aspek religius atau agama. Artinya, cawapres Jokowi dianggap perlu dari tokoh yang dekat dengan umat Islam.