Malakama Itu Berwujud LCGC
- Herdi Muhardi/VIVA.co.id
Penurunan minat konsumen juga terlihat di segmen Sport Utility Vehicle, baik kelas rendah maupun atas. Namun, itu terjadi jika dibandingkan antara Mei dan Juni saja. Bila dikomparasi dengan tahun lalu, angka di kelas MPV atas justru naik 10 persen.
Sebenarnya, menyusutnya penjualan kendaraan selalu terjadi setiap tahun di Indonesia. Umumnya hal itu terjadi ketika masyarakat bersiap-siap untuk menyambut Lebaran, yang kebetulan tahun ini jatuh pada Juni. Hal tersebut ditegaskan oleh Executive General Manager PT Toyota Astra Motor, Fransiscus Soerjopranoto.
“Menjelang Lebaran kemarin, kami bisa jualan sekitar 8.000 unit. Kalau enggak ada kendala seperti perpanjangan libur, STNK (kebijakan) dan segala macam, mungkin kami bisa jualan lebih,” ujarnya di Jakarta beberapa waktu lalu.
Tapi setelah Lebaran, pria yang akrab disapa Soerjo itu pesimistis, jika penjualan akan kembali normal begitu saja. Karena, semua orang baru melakukan aktivitasnya kembali pada Senin 25 Juni 2018, begitu pula dengan semua jaringan diler mereka.
Hal itu ternyata terbukti. Pada Mei 2018, penjualan semua lini Toyota mencapai 28 ribuan unit. Lalu menurun di bulan selanjutnya, menjadi hanya 18 ribuan unit.
![]()
Terkait rendahnya penjualan mobil LCGC berkapasitas lima penumpang, hal itu disebabkan adanya perubahan kebutuhan konsumen. Soerjo mengatakan, wajar jika Calya selalu menempati posisi teratas. Karena, pasar otomotif di Indonesia 44 persen diisi mobil tujuh penumpang.
“44 persen tujuh penumpang itu mencerminkan keinginan masyarakat Indonesia. Buktinya bisa dilihat dari Rush, yang tadinya lima penumpang kami jualannya hanya 1.500 sampai 2.000 unit. Sekarang, di atas 3.000 unit per bulan,” jelasnya.
Meski LCGC tujuh penumpang seperti Calya dan Sigra banyak peminatnya, tetap saja produsen tidak mendapat untung besar. Sebab, kata dia, selisih untung yang didapat dari LCGC sudah diatur oleh pemerintah.
“Jadi, kalau kami bicara daging, dagingnya itu tipis, bukan daging kurban. Kalau daging tipis, kami hanya ikuti aturan pemerintah saja. Kami mau naikkan harga saja diatur. Itu dilemanya main di LCGC,” tuturnya.