Operasi Hitam 'Pabrik' Akun Media Sosial Palsu
- www.pixabay.com/tookapic
VIVA – Jagat media sosial Tanah Air terkejut dengan testimoni seorang buzzer dengan nama samaran Alex. Dia mengaku turut bermain mengaduk-aduk emosi pengguna internet di Indonesia. Bersama 20 buzzer lainnya, Alex menggalang isu suku, ras, agama dan antargolongan (SARA) pada Pilkada DKI Jakarta.Â
Untuk menyalurkan propaganda tersebut, menurut investigasi laman The Guardian, Alex membuat akun media sosial misalnya Twitter, Facebook dan Instagram palsu untuk 'berperang' melawan lawan politiknya, buzzer tim Agus Harimurti Yudhoyono dan Anies Baswedan.
Alex blak-blakan bekerja di belakang barisan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang kala itu merupakan Gubernur petahana DKI Jakarta. Sehari-hari, kala itu, Alex dan buzzer lainnya menyebarkan 60 hingga 120 berita di akun palsu Twitter mereka. Sedangkan di Facebook, intensitas mereka menyebarkan informasi pesanan mereka tak sekencang d Twitter.Â
Alex mengakui, perang di jalur dunia maya itu memang akhirnya menjurus ke arah SARA. Sampai akhirnya memuncak saat muncul demonstrasi besar-besaran massa yang mengatasnamakan Islam, menuntut Ahok dipenjara karena menistakan Islam untuk kepentingan politik.Â
Pilkada DKI tahun lalu memang menyisakan perang SARA dan kebencian. Mengaduk-aduk emosi pengguna internet sampai membelah siapa kubu pendukung sana dan siapa kubu pendukung sini.Â
Pengakuan Alex bagai menguak desas-desus politik di media sosial yang sudah berhembus lama selama ini, bahwa media sosial telah disesaki dengan akun partisan. Makanya, lazim saja publik sudah paham muncul pengakuan ‘pabrik’ akun media sosial palsu dipakai untuk kelompok tertentu. Hanya soal waktu saja menunggu rahasia tersebut terbongkar.
Buzzer yang dijalani Alex bukan barang baru, Tahun lalu, mata publik publik Tanah Air terbuka dengan penangkapan admin buzzer Muslim Cyber Army, sebuah akun media sosial yang gencar melancarkan propagandanya.Â
Kelompok tersebut punya pola yang mirip dengan kerja sehari-hari Alex. Muslim Cyber Army merupakan produsen hoaks dan penyebar kebencian dengan tujuan tertentu. Polisi telah membekuk admin MCA dan telah menetapkan enam tersangka dalam di berbagai daerah. Polisi menuding konten hoaks yang disebarkan MCA bertujuan mengadu domba umat beragama dan warga negara, apalagi setelah Pilkada DKI Jakarta 2017. Isu yang diamplifikasi MCA yakni penculikan ulama atau kiai, kebangkitan PKI, sampai isu SARA.