Waspada Kejahatan Cryptojacking

Ilustrasi hacker.
Sumber :

VIVA – Peringatan untuk pengguna Android. Apabila ponsel pintar mulai lelet disertai daya baterai yang cepat habis, maka smartphone Anda mengalami gejala cryptojacking.

img_title AI Sekarang bisa Meretas dalam 31 Detik Tanpa Bantuan Manusia

Ini adalah serangan siber dengan teknik menambang kripto yang memanfaatkan sumber daya orang lain secara diam-diam. Jenis serangan siber ini perlahan mulai bergeser dari ransomware ke cryptojacking.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Pelaku penyebar cryptojacking, atau biasa disebut cryptojackers, menggunakan metode ini untuk menyerang Android dengan tujuan meraup untung.

img_title Masih Ingat Gary McKinnon? Hacker yang Pernah Menghebohkan Pentagon dan NASA Kini Jadi Produser Musik

Mengutip situs Business Insider, Senin, 3 September 2018, menambang mata uang digital atau cryptocurrencies pada dasarnya hanya melakukan transaksi secara digital.

Namun, perbedaannya ada pada penyelesaian masalah menggunakan perangkat keras atau hardware sebagai imbalannya. Para hacker atau penjahat dunia maya ini telah menemukan cara paling murah untuk menambang, yaitu membajak Android.

img_title Masih Ingat Kevin Mitnick? Hacker Legendaris yang Pernah Membuat FBI Kewalahan Bertahun-tahun

Satu smartphone saja tidak memiliki kekuatan untuk proses penambangan. Beda halnya jika menggunakan banyak smartphone dan digunakan secara bersamaan.

Dengan ide ini maka cryptojackers semakin merajalela, bahkan hingga saat ini. Untuk proses, hacker memancing korban untuk download aplikasi yang tampaknya tidak berbahaya, namun sebenarnya, akan menjadi malware tambang pada perangkat korban.

Daftar aplikasi yang menyembunyikan penambang malware pun semakin bertambah. Salah satunya adalah Bug Smasher, tapi telah dihapus pada Januari tahun ini.

Butuh biaya besar

Ponsel berbasis android lebih rentan terkena cryptojacking, karena iOS melatih lebih ketat aplikasi yang diizinkan dan berada di App Store. Pada Juni lalu, Apple menambahkan pedoman pelarangan penggunaan perangkat untuk tambang kripto.

Kabarnya Google juga mulai melarang penggunaan perangkat untuk aktivitas tambang. Di mata Chairman Communication and Information System Security Research Center (CISSReC), Pratama Persadha, aktivitas tambang kripto atau cryptomining dimaksudkan untuk mengolah transaksi cryptocurrency.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Dengan begitu, para penambang ini akan mendapatkan sejumlah bayaran atau fee. "Sistemnya hardware based, ada pula yang software based, karena dibutuhkan perhitungan yang sangat tinggi. Kalau menggunakan prosesor biasa tidak bisa maksimal menambang," kata dia kepada VIVA.

Pratama melanjutkan bahwa infrastruktur tambang kripto ini membutuhkan banyak pengeluaran, sebab menggunakan server yang sangat besar.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut