Kala Tanah Bergerak di Bumi Tadulako

Pencarian Jenazah Korban Gempa dan Tsunami di Balaroa
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja

Bukan yang Pertama

img_title Purbaya Pastikan Kesiapan Anggaran untuk Bantu Penanganan Gempa NTT

Likuifaksi adalah munculnya getaran dahsyat gempa bumi di bawah permukaan tanah. Anggota Dewan Penasihat Ikatan Ahli Geologi Indonesia Rovicky Dwi Putrohari menjelaskan, likuifaksi terjadi pada lapisan di bawah tanah yang strukturnya batu pasir, sehingga daya dukung tanah menjadi berkurang.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Likuifaksi ini seperti karena seolah digetar-getarkan, persis saat kita memasukkan emping di dalam toples. Itu kan gerak-gerakkan supaya turun, nah itu daya dukungnya berkurang dan akhirnya kolaps," ungkapnya kepada VIVA.

img_title Soal Kemungkinan Prabowo Kunjungi Korban Gempa di NTT, Istana Bilang Begini

Biasanya, lapisan bawah tanah batu pasir di dalamnya sedimennya masih muda dan terdapat pori yang terisi air. Kemudian, air yang tersimpan di dalamnya akan ikut terbawa keluar saat munculnya likuifaksi.

Foto udara: Kawasan tanah bergerak (likuifaksi) yang terjadi akibat gempa bumi berkekuatan 7,4 SR pada 28 September 2018 di Palu Selatan, Palu, Sulawesi Tengah

img_title Pastikan Penyaluran BBM dan LPG Tetap Berjalan Pascagempa Flores NTT, Pertamina Patra Niaga Lakukan Ini

Selanjutnya, air akan bercampur dengan material lain. Apa yang terjadi di permukaan kemudian, tergantung dengan bidang yang ada di atasnya, apakah bidang miring atau tidak.

Jika di atas likuifaksi berupa bidang miring, bidang ini akan berperan menjadi bidang luncur yang menyebabkan longsor atau landslide.

"Bila lapisannya tak begitu miring, maka di atasnya amblas seolah tertelan oleh tanah yang sudah bercampur lumpur," tuturnya.

Di Sigi dan Palu, terjadi likuifaksi yang menyebabkan bangunan di atas permukaan berjalan dan tertelan lumpur. Sementara itu, di Balaroa, tampak rumah dan bangunan ambles ke dalam tanah.

Fenomena likuifaksi di lokasi gempa Lombok, NTB.

Karena bercampur dengan air, maka tanah berubah menjadi lumpur. Inilah yang menyebabkan proses evakuasi korban memakan waktu lama. Rumah maupun bangunan bisa tertimbun lumpur dengan kedalaman lebih dari tiga meter.

"Dalam proses evakuasi, kami mengerahkan juga alat berat untuk membantu. Dan medan memang cukup sulit ini, karena bangunannya terseret oleh lumpur," kata Sutopo.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Untuk tanah dengan profil yang berpotensi terjadinya likuifaksi ini, jelas Rovicky, bisa terjadi di dekat pantai maupun tengah atau pegunungan. Namun, potensinya lebih besar di dekat pantai, karena banyak sedimen belum terbatukan.

Dia mengatakan, tanah bergerak akibat gempa hanyalah fenomena yang biasa dalam geologi. Sebelum heboh tanah bergerak akibat gempa Palu dan Donggala, fenomena serupa pernah terjadi usai gempa Yogyakarta beberapa tahun lalu.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut