Teror di Trans Papua

Kondisi jalur darat yang menghubungkan antara Wamena ke Mumugu di Papua
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso

"Pembangunan infrastruktur di tanah Papua tetap berlanjut. Kita tidak takut dengan hal seperti itu," ujar Jokowi, usai membuka Peringatan Hari Anti Korupsi Sedunia di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, Selasa 4 Desember 2018.

img_title Gerombolan KST Berulah Kembali, Bakar Honai Milik Masyarakat di Papua

Menurut Jokowi, peristiwa dikabarkan terjadi di Kabupaten Nduga, daerah yang memang diidentifikasi rawan gangguan keamanan. Ia sudah memerintahkan Kapolri, Jenderal Polisi Tito Karnavian dan Panglima TNI, Marsekal Hadi Tjahjanto untuk menyelesaikan kasus tersebut.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Terpisah, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Basuki Hadimuljono juga menegaskan pembangunan jalan Trans Papua akan tetap dilanjutkan. Meskipun, ada sejumlah titik pembangunan jembatan dihentikan sementara, karena insiden penembakan di lokasi tersebut.
 
Basuki menjabarkan, Trans Papua segmen 5 yang menghubungkan Wamena hingga Mumugu sudah rampung, mencapai 70 hingga 72 persen. Setidaknya ada 14 unit jembatan yang akan dibangun oleh PT Istaka Karya dan 21 oleh PT Brantas Abipraya.

img_title Upacara Militer Iringi Pemulangan 3 Jenazah Prajurit TNI dari Papua

Sementara itu, untuk pembukaan lahan sebenarnya sudah tembus seluruhnya, hanya tinggal pengerasan jalan dan pembangunan jembatan. Penundaan pembangunan jembatan akan dilakukan hingga situasi kondusif.

Di tempat yang sama, Direktur Jenderal Bina Marga Kementerian PUPR, Sugiyartanto menambahkan bahwa pembangunan yang ditunda hanya untuk jembatan. Sebab, pembangunan segmen 5 Trans Papua sepanjang 278,6 km dari Wamena hingga Mumugu memang harus melewati sungai-sungai sehingga perlu dibangun jembatan.

img_title KSAD Akan Pimpin Upacara Pemakaman Prajurit TNI Korban Penembakan OPM

Walau ada penundaan, ia masih optimistis pembangunan Trans Papua selesai 2019. "Tembus 2019, sesuai renstra (rencana strategis) 2015-2019," katanya.

Anggota Komisi III DPR, Nasir Djamil mempertanyakan Polri dan TNI yang dianggap tidak maksimal dalam memberikan pengawalan dan keamanan bagi pekerja proyek strategis pemerintah di Papua. Dia heran, mengapa aparat belum bisa membasmi kelompok-kelompok bersenjata di Papua.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Ini menunjukkan bahwa aparat negara dalam hal ini kepolisian, TNI, ternyata belum mampu melumpuhkan kelompok-kelompok bersenjata yang ada di sana," kata Nasir di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa 4 Desember 2018.

Nasir menyesalkan anggaran negara yang dikucurkan untuk mewujudkan situasi yang aman di daerah konflik menjadi terlihat tak efektif. Padahal, anggaran sudah dipersiapkan untuk penanganan di medan-medan yang sulit dan daerah terisolasi.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut