Imlek dan Toleransi Beragama

sorot imlek tionghoa budaya china
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Asep Fathulrahman

Apalagi, tambah dia, Bogor lokasinya tak jauh dari Jakarta. Sehingga gelombang intoleransi di ibu kota dengan mudah menjalar ke kota satelit itu.

img_title YouTube Tumbang di Hari Kedua Imlek

Untuk penolakan perayaan Imlek di Pontianak, Thung mengakui motifnya berbeda. Tapi dia menilai pengaruh kasus Ahok terhadap gelombang intoleransi di kota itu tetap tidak bisa dipungkiri.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Intoleransinya itu dikaitkan dengan pemahaman yang sempit tentang beberapa konsep. Intoleransi itu, semakin kita nggak ngerti semakin tidak toleran, semakin paham kita akan semakin toleran," kata Thung.

img_title IHSG Dibuka Menghijau usai Libur Imlek dan Potensi Rebound, Bursa Asia Variatifnya

"Yang terjadi sekarang terlalu banyak hal yang muncul dan tidak dipahami [soal Imlek], karena selama ini sudah salah kaprah," katanya.

Hormati Imlek

img_title Monitor Perayaan Imlek di Jakarta, Wagub Rano Tegaskan Ini

Terpisah, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menyerukan kepada semua masyarakat untuk saling menghormati perayaan Imlek di Indonesia yang bertepatan pada Februari 2019.

"Saya mengajak semua kita untuk saling menghargai, menghormati tradisi yang sudah cukup lama ada dan hidup di tengah-tengah kita. Jadi bentuk penghormatan dan penghargaan yang berbeda dengan kita itu sama sekali tidak mereduksi, mengurangi keimanan kita," kata Lukman di Perpustakaan Nasional, Jakarta Pusat, Senin, 28 Januari 2019.

Lukman menjelaskan bahwa perayaan Cap Go Meh dan Imlek diyakini menjadi bagian dari ritual keagamaan. Ada yang meyakini itu tradisi perayaan yang sifatnya tradisi budaya saja, terlepas dari apa pun pemahaman orang terhadap perayaan seperti itu.

"Agama kita mengajarkan agar menghargai dan menghormati keyakinan yang berbeda dengan kita. Maka sebenarnya bentuk penghargaan dan penghormatan seperti itu bukanlah pembenaran tapi justru pengamalan ajaran-ajaran agama kita, karena kita dituntut untuk menghormati dan menghargai kepercayaan orang lain yang berbeda dengan kita," tuturnya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Sementara itu, Wali Kota Bogor, Bima Arya, juga angkat bicara. Dia menegaskan bahwa Bogor Street Festival (BSF) yang akan digelar 19 Februari 2019 mendatang merupakan simbol persatuan di tengah keberagaman warga Kota Bogor yang dibalut dalam pesta rakyat.

"Ada yang mengatasnamakan FMB. Mereka menyatakan surat terbuka yang pada intinya tidak menyetujui adanya Bogor Street Festival. Kami merasa perlu untuk menyampaikan kepada publik mengenai posisi Pemkot Bogor di sini. Ini menyangkut juga atas nilai-nilai kebersamaan dan keberagaman yang diyakini oleh kita sebagai warga Bogor dari masa ke masa," kata Bima, Senin, 28 Januari 2019.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut