WiFi Nakal Pencuri Data
- www.pixabay.com/StockSnap
Memang, ESET berpendapat bahwa angka 32 persen tidaklah tinggi, namun seharusnya dapat ditekan lagi sehingga lebih rendah.
Perlu dicatat juga, kecuali Thailand, semua negara dalam survei ESET itu adalah negara yang menggunakan ponsel dengan rata-rata 61 persen responden mengatakan menggunakan ponsel mereka untuk transaksi online.
Ini adalah alasan yang perlu diperhatikan, mengingat ponsel belum dilengkapi dengan solusi keamanan siber yang kuat. Dan yang lebih memperburuk keadaan lagi adalah meningkatnya ketersediaan WiFi gratis.
Risiko bahaya di balik WiFi gratis juga dipaparkan laman Inc pada 2 Agustus 2018. Disebutkan bahwa bisa saja penyerang siber sengaja meluncurkan WiFi nakal. Tujuannya apa lagi kalau bukan mencuri data pribadi atau data berharga lainnya.
Dalam artikel berjudul 'Warning: These 7 Public Wi-Fi Risks Could Endanger Your Business' itu juga memperingatkan akses WiFi gratis yang disusupi malware atau disadap oleh pihak ketiga, bisa saja tak hanya mengambil alih data-data pribadi tapi juga perusahaan, sehingga merugikan bisnis.
Selain itu, pencurian kata sandi dan nama pengguna juga termasuk dalam daftar risiko bahaya WiFi gratis.
Terapkan Langkah Aman
ESET berpendapat bahwa hasil surveinya tersebut menjadi pertanda bahwa pengguna internet di kawasan Asia Pasifik sudah terbiasa dalam berbagai aktivitas online. Akan tetapi, ada kesenjangan dalam pengetahuan tentang praktik terbaik dan sehat selama beraktivitas online tersebut, termasuk di antaranya pengetahuan tentang bahaya penggunaan WiFi publik untuk transaksi online.
Dan masalah ini perlu segera ditangani melalui edukasi yang berkelanjutan oleh semua stakeholder.
IT Security Consultant PT Prosperita – ESET Indonesia, Yudhi Kukuh mengatakan, “Kenyataannya adalah, jenis hotspot WiFi berbahaya ini dapat ditemukan di banyak tempat umum, jadi mengambil tindakan pencegahan sangat penting untuk memastikan para penjahat siber tidak mencuri data, kata sandi, memata-matai Anda, dan berbagai skenario jahat lainnya,” sebagaimana dikutip dari keterangan pers, Senin, 17 Juni 2019.
Yudhi lantas berbagi tips keamanan siber yang dapat digunakan semua orang agar terhindar menjadi korban akibat diretas melalui WiFi publik. Berikut ini di antaranya:
1. Saat bertransaksi di platform jual beli online, hindari menyimpan informasi pembayaran di portal pengecer, untuk mencegah kemungkinan hilangnya data melalui pelanggaran data. Pastikan bahwa transaksi dilakukan pada jaringan aman dan bukan pada jaringan publik.