Luka Menganga Indonesia di SUGBK
- VIVA/Muhamad Solihin
VIVA – Hasil minor dituai Indonesia di partai pembuka Kualifikasi Piala Dunia, Kamis 5 September 2019. Berhadapan dengan Malaysia, Indonesia kalah dalam drama lima gol.
Bermain di kandang, Stadion Utama Gelora Bung Karno, Indonesia sebenarnya tampil menjanjikan sejak awal. Permainan menyerang mereka tampilkan.
Kombinasi permainan terlihat begitu apik dari lini tengah. Menit 12, Indonesia bisa mencuri keunggulan. Umpan terobos cantik disodorkan Saddil Ramdani kepada Beto. Mendapat ruang tembak yang luas, Beto langsung mengeksekusi bola. Gol pembuka untuk Indonesia.
Lewat gol tersebut, Indonesia tampil berani. Mereka banyak memainkan bola. Tapi, saking asyiknya memainkan bola, konsentrasi jadi hilang. Menit 37, Indonesia kebobolan. Pemain pengganti Malaysia, Mohamadou Samareh, berhasil menyamakan skor.
Indonesia beruntung memiliki Beto. Dua menit berselang, Beto kembali membawa Pasukan Garuda unggul. Sepakannya dari luar kotak penalti berhasil menipu kiper Malaysia, Mohd Farizal Marias. Paruh pertama, Indonesia unggul 2-1 atas Malaysia.
Babak kedua belum berlangsung semenit, Indonesia hampir saja menggandakan skor. Sayangnya, eksekusi Stefano Lilipaly masih melebar.
Setelahnya, permainan kedua tim berimbang. Indonesia memang bisa memberikan tekanan kepada Harimau Malaya. Namun, beberapa kali Malaysia juga berhasil membuat jantung para pemain Indonesia berdegup kencang.
Mendadak, performa Indonesia menurun drastis. Situasi ini dimanfaatkan betul oleh Malaysia.
Mereka akhirnya mencetak gol penyeimbang di menit 66 lewat Muhammad Syafiq Ahmad. Gol Syafiq memantik semangat juang Malaysia. Dengan konsisten, mereka menguasai bola. Peluang demi peluang diciptakan. Dan, hasil manis mereka tuai saat injury time.
Sumareh menjadi mimpi buruk Indonesia. Umpan silang Matthew Davies berhasil disambar Sumareh untuk dijadikan gol. 2-3, Indonesia kalah di kandangnya.
Hasil yang memalukan. Bukan modal yang pantas dibanggakan. Sebab, ini jadi awal bagi Indonesia dan seharusnya, bisa diakhiri dengan tiga poin.
Terlihat jelas kelemahan Indonesia di atas lapangan. Stamina para pemain kedodoran. Skema permainan bertenaga yang dimainkan pelatih Simon McMenemy tak bisa dengan konsisten diterapkan.
![]()
Barisan pemain belakang Indonesia terlalu mudah dipecah. Lini tengah juga kewalahan menghadapi permainan bertenaga Malaysia.
"Kekalahan yang sakit. Anak-anak sudah main bagus, sesuai rencana saya. 20 menit terakhir, anak-anak mulai kelelahan. Lima menit terakhir, tenaga mereka habis. Umpan silang itu telah melukai kami. Kekalahan yang menurut saya, secara pribadi, sulit diterima," ujar pelatih Indonesia, Simon McMenemy, usai laga.
Kapten Indonesia, Andritany Ardhiyasa, mengakui rekan-rekannya kelelahan. Tekanan yang ada di lapangan, disebutkan Andritany, begitu tinggi.
"Sebenarnya, pemain sudah memberikan yang terbaik. Mereka capek, akhirnya pikiran berpengaruh. Reaksi pemain jadi kurang bagus. Bahkan, pemain sudah tak bisa lari. Usai peluit pertandingan berakhir, mereka kolaps," jelas Andritany.
Ini tentunya jadi PR besar bagi Indonesia. Melawan Malaysia saja kesulitan, apalagi main di kandang mereka. Selanjutnya, mereka harus menghadapi lawan yang lebih kuat macam Thailand, Vietnam, dan Uni Emirat Arab.
Tak usah bicara lolos terlebih dahulu. Namun, berapa poin yang bisa didapat Indonesia dari permainan seperti ini?
Otak Malaysia Tajam
"Indonesia sebenarnya punya keunggulan soal teknik dan kualitas. Tapi, Malaysia punya kemampuan taktik dan strategi yang baik," begitu kata mantan pelatih Indonesia, Rahmad Darmawan, saat berbincang dengan VIVAnews beberapa waktu lalu.
Benar saja, Malaysia menunjukkan ketajaman otaknya dalam bermain. Di laga melawan Indonesia, Malaysia sebenarnya tak terlalu unggul dalam urusan teknik permainan.
Namun, sistem permainan mereka begitu rapi. Permainan high pressing yang ditunjukkan Malaysia, membuat bingung para pemain Indonesia.
Speed demons Indonesia macam Andik Vermansah, Saddil Ramdani, dan Irfan Jaya, sulit menembus pertahanan Malaysia. Bek-bek Malaysia sangat rapi saat bermain.
Kekurangan mereka dalam urusan kecepatan dan teknik, bisa diatasi dengan kemampuan membaca pergerakan yang baik. Alhasil, Andik, Saddil, dan Irfan, mati kutu.
"Babak pertama, kami begitu gugup. Di paruh kedua, mereka tampil luar biasa. Anak-anak begitu fokus ke pertandingan. Ini menjadi penampilan terbaik kami. Semoga menular ke pertandingan melawan Uni Emirat Arab," kata juru taktik Malaysia, Tan Cheng Hoe.
![]()
"Kami identifikasi kesalahan di babak pertama. Kesalahan dan kelemahan kami perbaiki. Babak kedua, kami buat perubahan," lanjutnya.
Sumareh menyatakan memang ada perubahan yang dilakukan oleh Tan di babak kedua. Para pemain Malaysia pun mengubah pendekatannya terhadap tekanan di luar lapangan dari suporter Indonesia.
Intimidasi suporter Indonesia, disebutkan Sumareh, dijadikan para pemain Malaysia sebagai sumber semangat.
"Bukan pertandingan yang mudah, kami sudah memberikan segalanya. Kami harus membiasakan diri dengan atmosfer fans di Indonesia. Kami sudah memperkirakannya. Insiden yang terjadi, itu merupakan motivasi bagi kami," jelas Sumareh.
Pikiran para pemain Malaysia juga tak teralihkan, meski tertinggal 1-2. Mereka sama sekali tak panik ketika Indonesia bisa unggul dua kali.
Sumareh menyatakan, ada kebanggaan yang muncul karena Malaysia bisa comeback di laga sulit melawan Indonesia. "Kami tak menyerah sampai akhir, selamat untuk rekan-rekan. Saya bangga bisa pulang dengan tiga poin," kata Sumareh.
Blunder di Pergantian?
Ada yang aneh memang di laga pembuka Indonesia. Melawan Malaysia, ada kebijakan yang dirasa kurang pas, diambil oleh Simon.
Pergantian terlalu dini dilakukan oleh Simon. Lihat saja ketika Zulfiandi ditarik, dan digantikan Rizky Pellu. Memang, Zulfiandi melakukan kesalahan fatal dan membuat Sumareh bisa cetak gol penyeimbang Malaysia.
Tapi, sebenarnya kolaborasi Zulfiandi bersama Evan Dimas lebih baik ketimbang saat Pellu masuk. Namun, ada kelebihan ketika Pellu masuk, ada pemutus aliran serangan Malaysia yang efektif.
Lalu, pergantian lainnya yang cukup dipertanyakan adalah ketika Saddil ditarik dan digantikan Irfan Jaya. Terlalu dini pula Simon mengambil keputusan tersebut.
Hingga akhirnya, Ricky Fajrin cedera. Cuma satu pergantian lagi tersisa dan itu terpaksa diambil. Padahal, Beto sudah kelelahan dan harus digantikan.
Namun, opsi itu tak bisa diambil karena jumlah pergantian sudah tiga, kuota maksimal yang ditetapkan.
"Saddil sebenarnya bagus, tapi saat menyerang, ada lubang yang ditinggalkan. Kami harus mengganti pemain dengan yang bisa menyerang dan bertahan," ujar Simon.
Kondisi fisik pemain, disebutkan Simon, sebenarnya dipengaruhi karena jadwal kompetisi yang karut marut. Ya, jadwal kompetisi lagi biang masalahnya.
Memang, di Indonesia, jadwal kompetisi masih belum tertata rapi. Imbasnya banyak, pertandingan tertunda, jadinya klub sering tampil.
Jumlah pertandingan yang dilakoni klub dan pemain juga sering tidak manusiawi. Dan, menurut Simon, itu sangat berpengaruh dalam pertandingan melawan Malaysia.
"Coba lihat di luar, kompetisi sudah selesai, masuk istirahat. Pemainnya fokus. Sedangkan, kami tidak. Kompetisi saja masih berlangsung sampai masuk natal. Kami sudah siapkan segalanya, pemain tak bisa terus dipaksa bermain," terang Simon.
Suporter Berulah, Timnas Susah
Bukan cuma Timnas Indonesia yang tampil buruk. Suporter juga tak santun saat mendukung. Ulah mereka tak patut ditiru. Sejak awal, suporter sudah berulah dengan nekat membawa suar dan bom asap. Ini tentu melanggar aturan AFC.
Sempat beredar pula, video yang menunjukkan adanya intimidasi dari oknum suporter Indonesia ke pendukung Malaysia. Saat ingin masuk ke stadion, suporter Malaysia sempat melindungi kepala mereka, seakan menghindari benda-benda keras yang dilempar pendukung tuan rumah.
Perwakilan Duta Besar Malaysia, Megat Samsul, membenarkan adanya insiden pelemparan terhadap suporter negaranya. Tapi, insiden itu bisa dikendalikan pihak keamanan.
"Mereka bukan diserang, tapi bisa dikatakan dilempari batu saja ketika masuk. Tak ada yang cedera, Alhamdulillah semua suporter sudah masuk ke stadion dengan aman," kata Samsul saat ditemui di kawasan SUGBK, Kamis 5 September 2019.
Ulah tak santun suporter Indonesia tak berhenti sampai di situ. Pada pertengahan babak kedua, mereka kembali berulah karena mencoba mengintimidasi para pendukung Malaysia dengan berbagai cara, termasuk melemparinya dengan benda seperti botol minum.
Alhasil, laga sempat dihentikan sementara. Para pemain Indonesia ikut menenangkan penonton. Hingga akhirnya, laga bisa dilanjutkan karena situasi kembali kondusif.
Namun, kericuhan pecah lagi saat Samarah mencetak gol kemenangan Malaysia. Suporter Indonesia kembali mengintimidasi pendukung Malaysia. Akhirnya, mereka harus diamankan lewat lorong pemain.
![]()
Sempat pula terjadi situasi tak kondusif di depan area VVIP. Dengan cepat, pihak keamanan mengamankan situasi.
Tak pantas sebenarnya. Karena, kita tuan rumah. Pikirkan, bagaimana jika nantinya kita bertandang ke Malaysia? Seharusnya, suporter bisa bersikap lebih santun.
"Sulit bagi saya mengomentarinya. Itu di luar kontrol, saya tak mau cari alasan. Pun, tak membuat alasan. Kami terganggu, Malaysia juga. Suporter Indonesia jadi yang terbaik, tapi bisa berubah terburuk apabila bermasalah,"Â terang Simon.
"Kedua tim terganggu. Ini tak boleh terjadi lagi," ujar Andritany. [mus]