Petaka Mengintai Menjelang Tahun Baru
- ANTARA FOTO/Idhad Zakaria
Dalam siaran pers tentang peringatan dini cuaca pada 23 Desember, BMKG mendasarkan peringatan dini cuaca ekstrem itu pada keberadaan topan phanfone di Samudera Pasifik timur Filipina dengan kecepatan angin maksimum 35 knot dan arah gerak ke Barat-Barat Laut.
Sirkulasi siklonik terpantau di Kalimantan Utara (925/900mb) yang dikhawatirkan menghambat aliran massa udara basah dari Asia (aktivitas monsoon Asia) terutama untuk wilayah Kalimantan Barat, lalu terdapat sirkulasi siklonik di Jawa Timur (925/700mb) dan di Papua (925/800mb).
Konvergensi yang terbentuk memanjang dari Sumatera Barat hingga Samudera Hindia barat Sumatera, dari Bengkulu hingga Selat Karimata bagian selatan, dari Sulawesi Barat hingga Maluku Utara, di perairan Selatan Bali-Jawa Timur dan di Papua. Daerah belokan angin terdapat di Kalimantan Barat dan Jawa Tengah.
Bulan-bulan Bahaya
Peringatan dini cuaca ekstrem BMKG itu selaras dengan antisipasi yang dibuat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Merujuk catatan BMKG, BNPB menyebut Desember dan Januari adalah bulan berbahaya untuk bencana hidrometeorologi. Sebab di kedua masa itu intensitas hujan mulai meningkat sehingga meningkatkan pula potensi bencana banjir dan tanah longsor.
"Karena Desember sampai Januari adalah bulan-bulan yang berbahaya, karena biasanya terjadi bencana besar,” kata Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB Agus Wibowo dalam keterangan persnya di kantornya, Jakarta, Selasa, 17 Desember 2019. “Kita tidak mengharapkan; ini hanya catatannya bahwa biasa terjadi bencana yang besar seperti banjir, gempa, longsor, dan sebagainya," ujarnya.
BNPB telah memetakan 489 kabupaten/kota yang rawan banjir dan longsor. "Jumlah penduduk terpapar dari bahaya banjir sedang-tinggi sebanyak 63,7 juta jiwa," kata Agus.
Menurut catatan VIVAnews, berdasarkan data BNPB, selama musim hujan tahun 2019, periode 1 Januari-30 April, terjadi 1.586 bencana di seluruh wilayah Tanah Air. Sebanyak 325 orang tewas, 113 orang hilang, 1.439 orang luka-luka, dan 996.143 orang mengungsi serta menderita akibat petaka itu.
"Lebih dari 98 persen bencana yang terjadi adalah bencana hidrometeorologi, sedangkan dua persen bencana geologi," kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, pada 29 Maret. “… dari Sabang sampai Merauke kejadian bencana begitu banyak, dan paling banyak memang terjadi di Jawa."