Saling Tuding Pejabat Negara Hadapi Banjir Jakarta
- VIVAnews/Yandi Deslatama
Sementara itu, Menteri PUPR Basuki Hadimuljono di hari pertama banjir melanda Ibu Kota, secara halus menyindir Anies. Di hadapan wartawan, Basuki menyampaikan kepada Anies bahwa program normalisasi kali seharusnya terus dijalankan agar banjir bisa diminimalisasi.Â
Pemprov DKI juga terlihat gagap menangani warga yang menjadi korban. Hingga malam hari, masih banyak warga yang belum dievakuasi, sementara air terus meninggi sebagai akibat derasnya bendung Katulampa di Bogor dan masih derasnya hujan di Depok. Gubernur DKI hanya menyampaikan pihaknya sudah menyiapkan sekitar 120.000 petugas untuk berjaga.Â
Terlepas dari kesiapan pemerintah menghadapi bencana di Ibu Kota, Kapolda Metro Jaya Komjen Pol Gatot Eddy Pramono juga melihat kesadaran warga akan keselamatan dirinya belum maksimal. Saat melakukan peninjauan kondisi banjir di Ciledug, Kapolda meminta agar warga yang berada di Perumahan Ciledug Indah 1 dan 2, Tangerang, mau dievakuasi petugas ke posko pengungsian.
Imbauan itu diberikan setelah dirinya yang meninjau langsung lokasi masih menemukan warga memilih untuk tetap tinggal di rumah.
"Tadi masih banyak warga yang tidak mau dievakuasi, mereka memilih untuk tetap tinggal di rumah karena takut barang-barang mereka hilang," katanya, Kamis, 2 Januari 2020.
Dijelaskannya, para warga yang memilih tinggal di rumahnya memiliki bangunan dua lantai. Sehingga, saat ini mereka mengamankan diri ke lantai dua rumah berikut dengan barang-barangnya.
BNPB Puji Konawe Utara
Kondisi mitigasi bencana di Jakarta seperti tuan tanpa wilayah. Saling lempar tanggung jawab, tak berujung tindakan agar banjir tak segila ini dan korban jiwa tak perlu mencapai puluhan.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen Doni Monardo mengatakan, selain kondisi resapan air yang buruk, kepala daerah juga bisa jadi komando penanganan banjir. Ia menunjuk Kabupaten Konawe Utara sebagai contoh yang layak ditiru.
Menurut Doni, kondisi di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi atau Jabodetabek tidak lagi ada resapan bagi air hujan. Sehingga air langsung mengalir ke sungai tanpa lewat resapan terlebih dulu, akibatnya terjadi banjir.
"Nyaris tidak ada resapan air lagi yang nyerap ke tanah. Jadi, begitu limpasan hujan turun ke atap, kemudian mengalir ke darat, limpasannya itu nyaris 100 persen turun ke sungai. Dan, ini akan mempercepat proses air untuk masuk ke tempat lebih rendah," ujar Doni di Kantor BNPB, Kamis, 2 Januari 2020.