Drama Berbelit Cari Pendamping Baru Anies Baswedan

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.
Sumber :
  • VIVAnews/ Fajar Ginanjar Mukti.

VIVA – Drama mencari Wakil Gubernur DKI Jakarta pengganti Sandiaga Uno, yang mengundurkan diri pada 27 Agustus 2018, akhirnya memasuki menit-menit akhir. Dua partai yang berkepentingan menentukan posisi tersebut, yaitu Gerindra dan PKS telah menyepakati dua nama untuk diusulkan mengisi jabatan Wagub DKI. Masing-masing partai itu mengusulkan satu kadernya.

img_title KPK Dalami Aliran Uang Kasus Suap Bengkulu, Ketua Komisi I DPRD Diperiksa

Kedua nama kandidat pendamping baru bagi Gubernur Anies Rasyid Baswedan adalah Nurmansjah Lubis dari PKS dan Ahmad Riza Patria dari Gerindra. Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) PKS DKI Sakhir Purnomo, mengatakan kompromi dilakukan terkait tak kunjung adanya wakil gubernur (wagub) DKI pengganti Sandiaga Uno.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Sudah lebih dari satu tahun posisi Wagub DKI kosong. Keputusan Sandiaga Uno untuk menerima tawaran menjadi cawapres mendampingi Prabowo Subianto membuat Anies Baswedan melangkah sendirian di ibu kota negara ini. Namun, ternyata tak mudah mencari pengganti Sandiaga. Meski telah ada kesepakatan antara Gerindra dan PKS, bahwa jatah wagub adalah untuk PKS, tapi titik temu tak juga terlihat. 

img_title Tiket Masuk Ragunan Diusulkan Naik Jadi Rp 10 Ribu, DPRD: Agar Mandiri dan Tingkatkan Kualitas

Sandiaga Uno.

Awalnya, ada dua calon cawagub dari PKS yaitu Agung Yulianto dan Ahmad Syaikhu, tapi proses keduanya juga tak pernah tuntas. Di luar kesepakatan, Gerindra juga mengajukan calon. Ada empat yang diajukan Gerindra, salah satunya adalah Ahmad Riza Patria. DPP PKS lalu mengusulkan satu nama lagi, yaitu Nurmansjah Lubis. Belakangan, pilihan mengerucut. PKS dan Gerindra sepakat masing-masing mengajukan satu nama, yaitu Ahmad Riza Patria dari Gerindra dan Nurmansjah Lubis dari PKS. 

img_title Gubernur Kalbar Duga Lahan Sengaja Dibakar untuk Buka Area Pertanian

"Di antara solusinya, boleh dikatakan win-win solutionnya, ajuan empat (cawagub Gerindra) itu dipilih salah satu oleh DPP, dan termasuk kami juga mengajukan usulan, dan kemudian PKS juga ajukan satu nama lagi," ujar Sakhir.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Menurut Sakhir,sekali pun posisi wagub merupakan jatah PKS, kompromi akhirnya tetap dilakukan. Partai ini mengklaim tidak ingin kepentingan warga Jakarta terus dikorbankan.

"Kalau PKS berkeras, 'pokoknya maunya (wagub DKI) PKS deh, enggak mau yang lain', kan perkiraan kami, dan teman-temab bisa perkirakan, akan (pemilihan wagub DKI) buntu terus, lama terus," ujarnya. 

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut