Waspada Virus Corona
- ANTARA FOTO/Reno Esnir
VIVA – Kamis pagi, 23 Januari 2020, warga kota Wuhan, provinsi Hubei, China, bergegas menjejali stasiun, bandara, jalan tol hingga terminal bus. Mereka berupaya agar bisa sesegera mungkin keluar dari kota tersebut. Pemerintah kota sudah memastikan, Wuhan akan diisolasi.Â
Sehari sebelumnya, Rabu, 22 Januari 2020, pemerintah kota Wuhan mengabarkan telah mengambil keputusan untuk melakukan karantina kota tersebut dengan cara melakukan lock down, atau menutup seluruh akses untuk masuk dan keluar dari Wuhan. Hari itu, pemerintah Wuhan juga mewajibkan seluruh warga untuk menggunakan masker, di semua tempat umum di kota, termasuk hotel, restoran, taman, kafe, dan pusat perbelanjaan.
"Orang-orang yang tidak mematuhi persyaratan akan ditangani oleh pihak berwenang sesuai dengan tugas dan hukum masing-masing," pernyataan tersebut disampaikan pemerintah kota Wuhan.
Menurut laporan Xinhua, proses lock down dimulai pada Kamis pagi. Dan pada Kamis sore, seluruh akses jalan raya utama dan layanan transportasi dari dan menuju kota dengan 11 juta penduduk tersebut ditutup, hingga waktu yang belum ditentukan.
Keputusan ini diambil setelah penyebaran virus tersebut terus merebak dan tak terbendung. Wuhan, sebagai kota pertama munculnya kasus dengan gejala mirip pneumonia tersebut memutuskan langkah besar karena saat ini China sedang bersiap menyambut tahun baru Imlek, di mana miliaran warga China akan menjejali semua jalur transportasi untuk mudik ke kampung halamannya masing-masing. Jika karantina tak dilakukan, penyebaran virus dikhawatirkan akan semakin membahayakan.Â
Gejala virus ini mulai terdeteksi pada pertengahan Desember 2019. Namun tak pernah diperkirakan bahwa penyebarannya membahayakan dan dampaknya bisa mematikan. Dikutip dari laman World Health Organization (WHO), who.int, pada 31 Desember 2019, pemerintah China telah menginformasikan pada lembaga kesehatan dunia tersebut tentang berkembangnya kasus sejenis pneumonia di kota Wuhan, provinsi Hubei, China.Â
Saat itu pemerintah China menyampaikan pada WHO, mereka telah melakukan berbagai hal untuk menekan penyebarannya. Mulai dari memberikan perawatan kepada pasien, mengisolasi kasus baru, mengidentifikasi pasien, melakukan pelacakan kontak dengan konsisten, hingga melakukan penilaian lingkungan di pasar besar, dan menyelidiki patogen penyebab wabah.Â
Sayangnya, upaya itu tak memberi dampak signifikan. Sejak pelaporan itu, kasus ini terus berkembang dengan pesat. Pada 1 januari 2020, teridentifikasi ada 44 kasus dengan satu orang tewas. Namun, hanya dua pekan kemudian, kasus ini sudah menginfeksi 544 orang dan 17 orang meninggal dunia.Â
Virus tersebut, yang disebut corona virus, telah tersebar ke  33 wilayah di China termasuk Beijing, Shanghai. Kasus ini juga teridentifikasi di Jepang, Hong Kong, Macau, Taiwan, Thailand, Korea Selatan, bahkan Amerika.
Bandara di seluruh dunia telah meningkatkan pengawasan kesehatan mereka. Prosedur penanganan penyakit menular juga diterapkan untuk membantu menekan penyebaran virus.Â
Kelelawar dan Ular Diduga Pembawa Virus
Sejumlah ilmuwan kesehatan China mengatakan, kasus ini diduga bermula dari The Huanan Seafood Market, sebuah pasar yang menjual masakan hewani di pusat kota Wuhan. Pejabat China mengkhawatirkan ratusan orang terinfeksi virus dari hewan yang dijual di pasar tersebut.Â
Pasar tersebut adalah pasar yang menjual aneka masakan dari daging berbagai hewan, mulai dari anak anjing, serigala, kelelawar, musang, landak, rubah, buaya, ular, daging unta, bahkan tikus.Â
Dugaan mengarah ke pasar hewan Wuhan, merujuk pada kasus sindrom pernapasan akut (SARS), virus yang juga mematikan dan menjadi pandemi di Asia pada 2002-2003. Dalam satu tahun, virus SARS menginfeksi 8.000 orang dan menewaskan 774 orang. Penyebaran virus SARS dikaitkan dengan konsumsi daging musang yang disantap oleh warga China.Â
Awalnya, kasus ini dikabarkan hanya menyebar dari hewan ke manusia. Tapi pada 20 Januari 2020, pemerintah China mengonfirmasi bahwa virus ini bisa menular dari manusia ke manusia. Virus corona diduga berawal dari kelelawar dan tertransmisi ke ular. Sejumlah ilmuwan China menganalisa terjadinya penularan dari ular ke manusia.
"Saat ini, kita bisa mengatakan bahwa ada fenomena penularan dari manusia ke manusia," ujar Zhong Nanshan, peneliti dari pemerintah China yang memimpin upaya penanganan wabah ini seperti dikutip dari Bussiness Insider, Rabu, 22 Januari 2020.
![]()
Menurut ilmuwan China, penyebaran virus Corona tak sekuat penyebaran virus SARS. Tapi jumlah mereka yang terinfeksi terus bertambah dengan pesat. Meski pemerintah China mengatakan jumlah yang terinfeksi mencapai 500-an orang, tapi seorang akademisi di Imperial College London memperkirakan jumlah mereka yang terinfeksi mendekati angka 1.723 orang.Â
Jika ini benar, maka ini kedua kalinya pemerintah China tertampar oleh penyebaran virus mematikan yang berasal dari brutalnya cara mereka mengonsumsi hewan.Â
Badan Kesehatan Dunia atau WHO, juga telah mengadakan pertemuan dadakan di Jenewa, Swiss untuk menentukan apakah wabah virus corona jenis baru ini merupakan situasi Darurat Kesehatan Publik Internasional. Jika sampai pada tahap tersebut, maka membutuhkan respons internasional yang terkoordinasi.Â
Namun dari pertemuan tersebut WHO memutuskan untuk tidak menyatakan status apapun pada tahap ini.
Indonesia Bersiap
Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto meminta masyarakat untuk tidak panik mengenai terus berkembangnya isu virus corona. Virus misterius yang semula teridentifikasi di Wuhan, Provinsi Hubei, China tersebut saat ini mulai menyebar ke berbagai negara.
Terawan menjelaskan, sejak beredarnya isu mengenai virus tersebut, pihaknya telah menetapkan siaga satu supaya virus tersebut tidak masuk ke Indonesia. "Aku akan ngecek semua, termasuk pintu negara semua. Kita sudah siaga satu ini enggak ada tidurnya. Tenang, saya bekerja membantu masyarakat untuk tak usah khawatir," kata dia di Gedung BRI, Jakarta, Kamis, 23 Januari 2020.
Dia meminta, semua pihak termasuk media untuk tidak terus-terusan menyebarkan informasi mengenai keberadaan virus tersebut di Indonesia, sebelum adanya fakta yang membuktikan. Tujuannya, supaya masyarakat tidak panik.
![]()
Sementara otoritas bandara Soekarno-Hatta, yang menerima penerbangan langsung dari Wuhan, kota asal penyebaran virus, mengatakan telah meningkatkan kewaspadaan.Â
Kepala Karantina Pelabuhan Kelas Satu Bandara Soekarno-Hatta, dokter Anas Ma`ruf, mengatakan pihaknya siap mengikuti pedoman dari WHO jika lembaga PBB itu mendeklarasikan situasi Darurat Internasional. Ia mengatakan, seperti dikutip dari BBC, saat ini belum ada restriksi terhadap perjalanan dari dan ke China.
Menurut Anas, terdapat 30 penerbangan dari China ke Cengkareng dalam satu hari dengan perkiraan jumlah penumpang mencapai sekitar 5000 orang. Namun demikian, kewaspadaan di Bandara Soekarno-Hatta, yang menerima penerbangan langsung dari Wuhan terus ditingkatkan.
Alat pemindai suhu tubuh alias thermal scanner telah diaktifkan kembali guna mendeteksi gejala-gejala inveksi virus Corona, salah satunya suhu tubuh tinggi.
Duta besar Indonesia untuk China, Djauhari Oratmangun, mengatakan sejauh ini tidak ada WNI di Negeri Tirai Bambu yang terinfeksi. KBRI China juga sudah dua kali membuat pengumuman. Sementara KJRI Shanghai, Guangzhou, dan Hongkong juga sudah mengimbau warga Indonesia di kota-kota itu.
"Di kota Wuhan sebagian besar mahasiswa Indonesia sudah pulang karena libur. Yang masih di Wuhan dan Provinsi Hubei terus berkomunikasi dengan KBRI," kata Djauhari kepada BBC News Indonesia, Kamis, 23 Januari 2020.
Â