Strategi Gerilya Menumpas Corona

Petugas medis saat mengambil spesimen dari pasien suspect virus Corona Covid-19. (Ilustrasi)
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Aswaddy Hamid

"Sebagai negara besar dan negara kepulauan,” Jokowi mengemukakan alasannya untuk tidak mendeklarasikan ‘darurat nasional’, sebagaimana dia sampaikan dalam akun Youtube Sekretariat Presiden, “tingkat penyebaran Covid-19 ini derajatnya bervariasi antara daerah satu dengan daerah lain”.

img_title Menkes Sebut Penularan Campak Lebih Tinggi Dibanding Covid: Bisa Sampai 18 Orang

Karena alasan yang sama, Jokowi sedari dini memastikan tak akan membuat kebijakan ‘lockdown’ atau mengisolasi sebuah kota atau seluruh negara seperti di China, Italia, Denmark, dan Irlandia. Seolah percaya diri bahwa semua akan terkendali, Jokowi meyakini Indonesia bisa menumpas Corona tanpa lockdown seperti di Korea Selatan, Jepang, Iran, Amerika Serikat, Inggris, dan lain-lain.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Meski begitu, bukan berarti pemerintah berlagak mandiri dan tak butuh saran WHO. Jokowi memastikan tetap berkoordinasi dengan WHO dan mematuhi protokol-protokol kesehatan yang ditetapkan lembaga dunia itu, di antaranya penelusuran orang-orang yang berinteraksi dengan yang positif Corona, karantina atau isolasi kasus, menyediakan laboratorium yang memadai, sosialisasi dan edukasi yang masif kepada masyarakat, dan lain-lain.

img_title Menebak Krisis Energi Sekarang, Apakah Lebih Buruk dari Covid-19?

Gelagapan

img_title Tak Cuma Covid-19, Lab Canggih Milik Kalimantan Selatan Bisa Deteksi Kanker dan Tuberkulosis

Selanjutnya, tinggal menilai sejauhmana klaim atau kepercayaan diri pemerintah itu dibuktikan dalam praktik. Sayang sekali, tak semuanya sesuai rencana. Dalam situasi-situasi tertentu, pemerintah seolah gelagapan atau tergagap-gagap menghadapi bencana itu.

Ketika Indonesia untuk kali pertama mengumumkan dua warganya positif terinfeksi corona, pemerintah pusat dan pemerintah daerah tak kompak sampai-sampai identitas kedua pasien terbongkar.

Seorang pasien warga Kabupaten Bekasi yang meninggal dunia di Kabupaten Cianjur sebelumnya dinyatakan negatif dari Covid-19 setelah hasil uji laboratorium pada spesimennya tak ditemukan virus SARS-CoV-2. "Jadi meninggalnya bukan karena Covid-19," kata Achmad Yurianto, juru bicara pemerintah untuk penanganan wabah Corona, waktu itu.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Tetapi, tiga belas hari setelah pengumuman, pemerintah mengoreksinya: tidak jadi negatif, tetapi positif. Keluarga pasien yang semula lega malah jadi tertular.

Di Jakarta, kebijakan pembatasan operasional moda transportasi publik malah membikin semrawut. Antrean para calon penumpang mengular bagaikan orang mengantre sembako. Gubernur DKI Anies Baswedan memang menganjurkan warga menghindari beraktivitas di luar rumah dan, kalau bisa, tidak berkantor dan bekerja di rumah saja.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut