Puasa dan Lebaran Dibayang-bayangi Corona
- ANTARA FOTO/Dedhez Anggara
Kabar buruknya, seperti analisis Badan Intelijen Negara, wabah corona di Indonesia akan mencapai puncaknya justru saat Ramadan nanti—berdasarkan perhitungan bahwa puncak penjangkitan corona biasanya pada hari ke-60 sampai 80 sejak kasus pertama diumumkan, yang berarti bulan April-Mei.
Dalam urusan pangan selama tiga bulan nanti, pemerintah mengklaim pasokan aman dan akan rutin dikontrol setiap minggu. “Stok beras, jagung, daging sapi atau kerbau, gula dan bawang putih,” kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, “dijamin cukup untuk memenuhi kebutuhan.” Stok beras 7,7 juta ton, jagung 6,2 juta ton, gula 20 ribu ton dan akan ditambah 150 ribu ton lagi, bawa putih 70 ribu ton, daging kerbau 170 ribu ton, dan daging sapi 120 ribu ton.
Prediksi puncak penyebaran corona sebetulnya diklaim sudah diperhitungkan juga oleh pemerintah. Sebagai antisipasi lonjakan pasien dinyatakan positif corona dalam beberapa bulan mendatang, menurut Presiden Joko Widodo, pemerintah menyiagakan 132 rumah sakit pemerintah, 109 rumah sakit TNI, 65 rumah sakit Polri, dan rumah sakit-rumah sakit BUMN.
Yang belum pasti benar ialah langkah-langkah antisipasi untuk musim mudik. Pemerintah mempercepat penanganan wabah corona, sebagaimana diungkapkan juru bicara untuk urusan wabah Covid-19 Achmad Yurianto, ialah agar segera mereda dan tak sampai berlarut-larut hingga Idul Fitri.
Tetapi, siapa yang menjamin semua akan mereda secepatnya, dan kalau tidak, siapa yang menjamin orang-orang tak mudik. Kementerian Perhubungan mengaku sudah menyiapkan sejumlah skema pengaturan arus mudik bahkan untuk situasi terburuk, misal, ada satu-dua kota yang di-lockdown atau diisolasi total. Sayangnya Kementerian belum mau membeberkan skema-skema itu.
Bisa frustrasi
Dewan Perwakilan Rakyat sebenarnya menyambut baik keputusan BNPB memperpanjang masa darurat bencana corona. Selama masa itu, pemerintah juga dapat memperbarui informasi dari hari ke hari tentang perkembangan secara nasional maupun dunia, termasuk kemungkinan obat atau vaksinnya sudah ditemukan dan tersedia secara massal.
Masyarakat, menurut Ketua Komisi VIII DPR Yandri Susanto, perlu diberikan informasi yang benar dan akurat tentang perkembangan penanganan wabah itu, apalagi kalau sampai harus berbulan-bulan. “Kalau tidak,” katanya, “masyarakat akan bingung dan sedikit frustasi.”