Corona di Indonesia Mulai Ugal-ugalan

Petugas menangani pasien suspect Corona. (Ilustrasi)
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Oky Lukmansyah

Pemerintah mengajukan dua argumen tentang penyebab peningkatan drastis itu. Pertama, sebagaimana cepat-cepat diakui oleh juru bicara pemerintah Achmad Yurianto, sempat terjadi ketidakselarasan data antara pusat dengan daerah. Beberapa rumah sakit di daerah tidak melaporkan datanya kepada pemerintah pusat sejak 12 Maret. Kedua, Indonesia baru memasuki fase awal penjangkitan dan, karena itu, terjadi akselarasi atau percepatan penambahan jumlah pasien.

img_title Menkes Sebut Penularan Campak Lebih Tinggi Dibanding Covid: Bisa Sampai 18 Orang

Yurianto berdalih, peningkatan itu sebenarnya lazim dan tak terhindarkan pada fase-fase awal, seperti terjadi juga di negara-negara lain. Potensi peningkatan akan bertambah lagi kalau makin banyak orang yang diperiksa. Yang dapat diharapkan ialah masa fase peningkatan itu tidak lama.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Pada dasarnya, katanya, data statistik itu sangat dinamis, artinya masih dapat berubah setiap saat seiring perkembangan. Jumlah yang positif terinfeksi barangkali akan bertambah lagi dan bersamaan dengan itu jumlah pasien yang sembuh terus meningkat sehingga menurunkan rasio kematian.

img_title Menebak Krisis Energi Sekarang, Apakah Lebih Buruk dari Covid-19?

Jika pemerintah sudah menggalakkan pemeriksaan cepat atau rapid test —yang memerlukan waktu 15 menit sampai 3 jam— secara massal, makin cepat pula laju penyebaran virus itu dihentikan. Tentu saja mesti dibarengi dengan pembatasan interaksi sosial untuk mencegah penularan. Kalau skenario itu lancar, Yurianto memperkirakan wabah corona di Indonesia mereda pada April.

Efektivitas rapid test

img_title Tak Cuma Covid-19, Lab Canggih Milik Kalimantan Selatan Bisa Deteksi Kanker dan Tuberkulosis

Presiden Joko Widodo telah memerintahkan aparaturnya agar segera melaksanakan rapid test secara massal untuk deteksi dini sekaligus menghambat laju penyebaran corona. Pemerintah mengimpor 10.000 unit alat pendiagnosis Covid-19 itu dari China. Diperkirakan dalam beberapa hari mendatang sudah bisa disiagakan di ratusan rumah sakit yang ditunjuk oleh pemerintah.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Indonesia terilhami Korea Selatan yang dianggap cukup berhasil menekan laju penyebaran corona di negara itu tanpa lockdown atau mengisolasi satu/beberapa kota, melainkan dengan rapid test secara massal. Korea diklaim sanggup memeriksa belasan ribu sampai puluhan ribu orang per hari. Di sana, per 18 Maret, total kasus positif 8.413 orang dan tewas 84 orang atau 0,09 persen.

Metode rapid test diyakini dapat membantu mempercepat diagnosis massal dan serentak. Juga tidak membutuhkan laboratorium bio security level II alias bisa di hampir semua lab di rumah sakit-rumah sakit Indonesia. Namun, metode itu bukan tanpa kelemahan.

Rapid test menggunakan spesimen darah atau serum darah sebagai sampel yang diperiksa. Spesimen darah yang dibutuhkan harus berasal dari seseorang yang sudah terinfeksi selama seminggu. Jika tidak, hasilnya kemungkinan besar negatif atau tidak terdeteksi.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut